Kamis, 08 Desember 2011

FORCE MOULTING


FORCE MOULTING
(tugas manajemen usaha ternak unggas)










Oleh :
I. MADE ADI JAYA
0614061038





JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009
FORCE MOULTING

Force moulting merupakan tingdakan merontokkan buluyang waktunya diatur oleh manusia. Force moulting umumnya dilakukan pada ayam-ayam petelur yang telah tua atau pada ayam pedaging bibit, biasanya setalah mencapai umur 18 bulan. Pada kondisi ayam yang sudah tua, ayam-ayam tersebut menjadi beban karena biaya produksi sudah lebih besar dari pada pendapatan.
Force moulting adalah usaha merontokkan bulu unggas sebelum masa waktunya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan masa peneluran kedua yang serasi. Selama masa meranggas (moulting) berat badan layer akan berkurang sekitar 400-600 gram yaitu dengan cara mengatur makanannya. Banyak metode yang dilakukan dalam memberikan pakan kepada ayam yang sedang moulting, umumnya yaitu selama 6 minggu diberikan makanan dengan kadar protein rendah tetapi ditambah trace mineral dan vitamin, sesudah 6 minggu diberikan makanan yang normal dan unggas akan berproduksi secara normal selama 4 minggu berikutnya (Anonim, 2008).
Ayam petelur mulai berproduksi sekitar umur 22-24 minggu dan produksinya akan terus meningkat serta mencapai puncaknya pada umur 34-36 minggu. Setelah itu, produksinya akan terus menurun sesuai dengan bertambahnya umur dan pada umur sekitar 18 bulan (72 minggu) secara alami ayam akan mengalami proses ganti bulu yang lazim disebut moulting (Kartasudjana, 2006). Akibatnya, setalah terjadi proses alamiah tersebut maka produksi akan turun dan terhenti sehingga peternak tidak akan mendapatkan telur (keuntungan), tetapi setelah terjadi proses tersebut maka ayam akan kembali berproduksi lagi (tidak maksiamal). Untuk menjaga kesinambungan ayam, maka harus diganti dengan ayam dara (pullet), akan tetapi harga ayam dara dari hari ke hari semakin meningkat sehingga proses gugur bulu tersebut dapat dipersingkat selama sekitar 2 bulan, dengan menerapkan proses gugur bulu paksa (force moulting), maka setelah itu, produksi akan meningkat dengan presentase tinggi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Mulyono (2004) bahwa secara normal rontok bulu terjadi setelah ayam berumur lebih dari 80 minggu. Pada umur ini merupakan saat yang tepat bagi ayam untuk diapkir. Proses perontokan bulu biasanya terjadi selama 2-4 minggu.
Menurut Kartasudjana (2006) bahwa hal-hal yang menjadi pertimbangan perlu tidaknya dilakukan force moulting untuk menjaga performa pada siklus produksi tahun kedua yaitu :
a. Biaya produksi, biaya pada pelaksanaan force moulting lebih murah dari pada biaya untuk membesarkan doc, sehingga pelaksanaan force moulting lebih baik.
b. Angka kematian, angka kematinan pada siklus pada produksi kedua lebih rendah dari pada siklus produksi tahun pertama.
c. Konsumsi ransum, konsumsi ransum pada siklus produksi tahun pertama lebih tinggi dari pada tahun kedua.
d. Masa berproduksi, masa produksi pada tahun pertama lebih lama dibandingkan dengansiklus produksi kedua.
e. Produksi telur, puncak produksi tahun kedua 7-10 % lebih rendah dari tahun pertama dan terus menurun secara perlahan setelah mencapai puncak produksi.
f. Kualitas kulit telur, kualitas telur pada siklus kedua lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun pertama.
g. Berat telur, berat telur pada tahun kedua lebih tinggi dari pada tahun pertama.
Ada dua cara force moulting, yaitu cara konvensional dan nonkonvensional. Cara konvensional dilakukan dengan menggunakan perlakuan sederhana melalui pambatasan ransom,  air minum, dan cahaya. Cara nonkonvensional dengan menggunakan obat-obatan yang disuntikkan.
Metode force moulting yang sederhana melalui pembatasan pemberian, yaitu :
  1. pembatasan pemberian ransom, ayam puasa dalam waktu tertentu dan makan sedikit untuk 1 hari lalu puasa lagi.
  2. pembatasan pemberian air minum, cara ini sulit diterapkan di Indonesia karena iklim tropis yang panas.
  3. pembatasan pemberian cahaya, cahaya mempengaruhi produksi telur bila cahaya dibatasi akan menghentikan produksi telur.


Tujuan force moulting adalah agar ayam berhenti bertelur dan memberi waktu istirahat bertelur agar siap bertelur lagi. Bila selama 2 bulan force moulting benar-benar terjadi dan ayam berhenti bertelur maka dapat diduga di tahun kedua ayam akan bertelur banyak dan besar-besar.

Ada beberapa program yang baik melakukan force moul;ting, north (1984) membagi 2 program, yaitu two-cycle molting dan three-cycle molting program.
  1. two-cycle molting program meliputi satu kali rontok bulu dengan dua siklus produksi telur
  2. three-cycle molting program meliputi 2 kali rontok bulu dan 3 siklus produksi telur.

Keuntungan dan Kerugian Force Moulting
Keuntungan dari program force moulting adalah biaya pemeliharaan lebih murah dari pada membeli ayam pengganti (DOC, pullet), ayam setelah mengalami force moulting lebih resisten terhadap penyakit, dan biaya pembelian pullet dapat dialihkan dengan menabung uang serta tidak menyita waktu yang banyak. Sedangkan kerugian dari program force moulting adalah selama proses moulting terjadi ayam terus makan dan tidak berproduksi, bila ayam disembelih setelah dua tahun bertelur tidak empuk (Ellis M.R., 2007).



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008. Rontok Bulu Buatan (Force Moulting). www. sentralternak.com (diakses 24 September 2008).

Ellis M.R. 2007. Moulting - A Natural Process. Poultry Branch, Agriculture Western Australia. PoultrySite.com (diakses 24 September 2008).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar