Kamis, 08 Desember 2011

STUDI KELAYAKAN USAHA LAYER DARI PEMELIHARAAN PULLET SAMPAI AFKIR


STUDI KELAYAKAN USAHA LAYER DARI PEMELIHARAAN PULLET SAMPAI AFKIR
( Tugas  Manajemen Usaha Ternak Unggas )














Oleh :

I. MADE ADI JAYA
0614061038










JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2009






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:
1. Tipe Ayam Petelur Ringan.
Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Setiap pembibit ayam petelur di Indonesia pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan (petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus untuk bertelur saja sehingga semua kemampuan dirinya diarahkan pada kemampuan bertelur, karena dagingnya hanya sedikit. Ayam petelur ringan ini sensitif terhadapa cuaca panas dan keributan, dan ayam ini mudah kaget dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila kepanasan.

2) Tipe Ayam Petelur Medium.
Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran orang mengatakan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih, kalau dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah harganya dipasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur putih dan produksinya telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu daging dari ayam petelur medium akan lebih laku dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa yang enak.

Perkembangan dunia usaha dibidang peternakan sangat tinggi prospeknya karena kebutuhan akan nutrisi protein hewani semakin tinggi. Semakin banyak jumlah manusia maka akan semakin banyak pula kebutuhan konsumsi protein yang berasal dari hewan.

Pemeliharaan yang akan dilakukan adalah ayam layer jenis pullet sampai dengan afkir (21 – 75 minggu), dengan jumlah ayam 30ST atau 6000 ekor. Dalam pemeliharaan ini kandang yang akan digunakan yaitu kandang cage yang terbuat dari kawat dengan jangka waktu 6 periode, satu periode 12 bulan

Biaya yang dibutuhkan dalam usaha ini sekitar Rp 1.800.000.000,- dan biaya atau modal yang digunakan untuk membangun usaha ini di dapat dari pinjaman modal pada bank 50% dari yang dibutuhkan sebesar Rp 900.000.000,00 dengan bunga 12%. Hasil usaha yang akan diperoleh dari peternakan ini berupa telur, ayam afkir, feces dan penjualan peti kayu

1.2 Tujuan
Adapun tujuannya adalah :
  1. dapat menentukan modal yang dibutuhkan dalam berwirausaha
  2. mengetahui cara dalam berwirausaha dan dapat membuka lapangan pekerjaan
  3. mengembangkan usaha untuk meningkatkan profit produksi























BAB II
HARGA OUTPUT DAN INPUT

2.1 Harga Output
Harga output meliputi segala sesuatu yang berupa barang atau jasa yang masuk ke dalam perusahaan dan mengeluarkan biaya untuk memperolehnya.

Tabel 1 harga output
Jenis pengeluaran
Jumlah
Harga satuan (Rp)
Total harga (Rp)
Pullet
6000 ekor
35.000,-
210.000.000,-
Ransum
240.000 kg
5.900,-
1.416..000.000,-
Vaksin ND dosis 1000/ampul
6 ampul
17.500,-
105.000,-
Vaksin gumboro dosis 500 ekor
12
35.000,-
420.000,-
Trimizyne dosis 1000/bungkus
10 bungkus
16.000,-
160.000,-
Desinfektan
2 botol
12.000,-
24.000,-
Egg stimulant dosis 1000 g
15 bungkus
10.000,-
150.000,-
Vita Stress dosis 1000/bungkus
10 bungkus
7.500,-
75.000,-
Upah tenaga kerja /periode
3 org/periode
2.000.000,-
6.000.000,-
Sekam padi
30 karung
1.500,-
45.000,-
listrik
12 bulan
200.000,-
2.400.000,-
sewa tanah + kandang + buat gudang pakan
+ peralatan kandang
1 unit
1.000.000.000,-
300.000.000,-
Total Biaya


2.913.400..000,-

2.2 Harga Input
Harga input merupakan barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan yang dipasarkan atau di jual kepada konsumen yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan usaha dengan mortalitas 1 %.

Tabel 2 Harga input
Jenis yang dijual
Jumlah
Harga Satuan (Rp)
Total Harga (Rp)
Telur
131.400 kg
14.000,-
1.839.600.000,-

Ayam afkir
5940 ekor
25.000,-
148.500.000,-
Feces
6.000 karung
7.500,-
45.000.000,-
Peti Kayu
8.760 peti
3.500,-
26.280.000,-

Total Biaya



Rp 2.059.380.000
Keterangan :
  1. satu periode 12 bulan
  2. masa produksi/periode adalah 365 hari, satu hari menghasilkan 24 peti telur, sehingga 24 peti x 15 kg = 360 kg/hari. Jadi total produksi adalah 365 hari x 360kg/hari = 131.400 kg/periode. Harga telur/kg Rp 13.000 dengan demikian 131.400 kg/periode x Rp 14.000,- = Rp 1.839.600.000,-
  3. pengambilan feces dilakukan 2 bulan sekali sebanyak 1000 karung, jadi dalam 12 bulan didapat sebanyak 6000 karung. Harga satu karung Rp 7500,- maka dalam 12 bulan di dapat pemasukan sebesar Rp 7500 x 12 = Rp 45.000.000,-
  4. harga ayam afkir Rp 25.000,-/ekor dengan mortalitas 1%, maka dalam 1 periode didapat Rp 25.000 x 5940 = Rp 148.500.000,-
  5. harga peti kayu yaitu Rp 3500,-/buah, kira-kira yang dibutuhkan sekitar 8760 peti maka perhitungannya yaitu Rp 3500,- x 8760 =  Rp 26.280.000,-

2.3 Investasi modal
Modal yang digunakan adalah hasil peminjaman dari pihak bank 50% sebesar    Rp 1.500.000.000,- dengan bunga 12% per tahun.

BAB III
BIAYA OPERASIONAL

Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi dan besarnya biaya yang dikeluarkan tergantung dari besarnya usaha yang dikeluarkan tergantung dari besarnya usaha. Adapun rincian biaya operasional tersebut sebagai berikut :
  1. pembelian pullet sebanyak 6000 ekor, @ Rp 35.000,- x  6000 ekor =      Rp 210.000.000,-
  2. biaya ransum yang dibutuhkan sebanyak @ Rp 5900,- x 240.000 kg =      Rp 1.416.000.000,-
  3. vaksin ND dosis 1000/ampul dibutuhkan sebanyak 6 ampul dengan harga @  Rp 17500,- x 6 = Rp 105.000,-
  4. vaksin gumboro dosis 500 ekor dibutuhkan sekitar 12 botol @ Rp 35.000,- x 12 botol = Rp 420.000,-
  5. trimizyn dosis 1000 g/bungkus, dibutuhkan 10 bungkus @ Rp 16.000,- x 10 bungkus = Rp 160.000,-
  6. desinfektan dibutuhkan sebanyak 2 botol @ Rp 12.000,- x 2 = Rp 24.000,-
  7. egg stimulan dosis 1000g/ bungkus dibutuhkan 15 bungkus @ Rp 10.000,- x 15 bungkus = Rp 150.000,-
  8. vita stress dosis 1000g/ bungkus dibutuhkan 10 bungkus  @ Rp 7.500,- x 10 bungkus = Rp 75.000,-
  9. upah tenaga kerja sebanyak 3 orang/periode @ Rp 2.000.000,- x 3 orang = Rp 6.000.000,-
  10. sekam padi untuk melindungi telur sebanyak 30 karung @ Rp 1500,- x 30 karung = Rp 45.000,-
  11. pembayaran listrik selama 12 bulan @ Rp 200.000,- x 12 bulan =           Rp 2.400.000,-
  12. sewa tanah +  kandang + buat gudang pakan + peralatan kandang               Rp 300.000.000,-


Jadi total biaya operasional yang dikeluarkan selama satu periode adalah sebesar Rp 2.913.400.000,-

Sedangkan biaya variabel Rp 2.913.400.000,- - Rp 300.000.000,- =                    Rp 2.613.400.000,-

Pemeliharaan dilakukan selama 3 periode sehingga biaya operasional total sebesar Rp 2.613.400.000,- + biaya operasional selama 2 periode tanpa sewa kandang yaitu Rp 2.613.400.000,- x 2 periode = Rp 5.226.800.000,-.

Jadi total biaya operasional selama 3 periode adalah sebagai berikut :
Rp 2.913.400.000,- + Rp 5.226.800.000,-. = Rp 8.140.200.000,-




















BAB IV
HASIL USAHA DAN PENGEMBALIAN HUTANG POKOK SERTA BUNGA SEBESAR 12%


4.1 Hasil Usaha (input)

  1. Hasil penjualan telur sebanyak 131.400 kg/periode, harga telur di pasar Rp 14.000,- jadi @ Rp 14.000,- x 131.400 kg = Rp 1.839.600.000,-
  2. penjualan ayam afkir dengan mortalitas 1% sebanyak 5940 ekor dengan harga per ekor Rp 25.000,- @ Rp 25.000,- x 5940 ekor = Rp 148.500.000,-
  3. penjualan feces ayam sebanyak 6000 karung/periode dengan harga feces Rp 7500/karung @ Rp 7500,- x 6000 karung = Rp 45.000.000,-
  4. penjualan peti kayu sebanyak 7000 peti @ Rp 3500,- x 8760 peti =          Rp 26.280.000,-
  5. jadi total pendapatan selama 1 periode yaitu = Rp 1.839.600.000,- + Rp 148.500.000,- + Rp 45.000.000,- + Rp 26.280.000,- = Rp 2.059.380.000,-

Pemeliharaan dilakukan selama 3 periode, sehingga pendapatan total sebesar : Rp 2.059.380.000,- x 3 periode = Rp 6.178.140.000,-


4.2 Cicilan hutang pokok perusahaan ke bank

  1. jumlah hutang pokok perusahaan kepada bank adalah Rp 1.500.000.000,- selama 3 periode atau 3 tahun dengan bunga pinjaman 12% per tahun
  2. pengembalian hutang setiap tahunnya adalah Rp 1.500.000.000,- / 3 tahun = Rp 500.000.000,-
  3. bunga 12% per tahun maka 12% x Rp 1.500.000.000,- = Rp 180.000.000,-/periode
  4. jadi perusahaan membayar kepada bank sebesar Rp 500.000.000,- + Rp 180.000.000,- = Rp 680.000.000,-/periode/tahun

Cicilan pengembalian dalam bentuk tabel dapat dilihat dibawah ini :
Tabel 3 Pengembalian kredit
      Uaraian                                                  Periode

0
1
2
3
Pinjaman (Rp)
1.500.000.000,-



Cicilan  (Rp)

500.000.000,-
500.000.000,-
500.000.000,-
Bunga 12% per tahun

180.000.000,-
180.000.000,-
180.000.000,-

Keuntungan selama 3 periode pemeliharaan adalah sebagai berikut :
Pinjaman          :           Rp 1.500.000.000,-
Cicilan              :           Rp    680.000.000,- -
Total                :           Rp 2.180.000.000,-

Selama 3 periode :
Rp 6.178.140.000,- - Rp 2.180.000.000,- = Rp 3.998.140.000,-














BAB V
EVALUASI USAHA


5.1 Kriteria Discounted

Kriteria discounted mengacu pada apa yang akan diperoleh dikemudian hari dan berapa nilainya sekarang, kelayakan usaha ini didasarkan pada B/C ratio bernilai >1 maka usaha investasi diteruskan, bila B/C < 1 maka rencana investasi tidak dapat diteruskan dan bila B/C ratio = 1 maka akan tercapai break event point (BEP) atau balik modal.

Rumus B/C ratio           =          Total Penerimaan
                                                    Total Biaya
                                    =          Rp 6.178.140.000,-
                                                Rp 8.140.200.000,-
                                    =          0,75
Maka usaha ini layak untuk diteruskan


5.2 Kriteria Undiscounted

a. Margin efficiency of capital (MEC)
merupakan perbandingan antara keuntungan yang diharapkan dengan tingkat bunga yang berlaku
MEC    =          Rp 2.059.380.000,-
                        Rp    180.000.000,-
            =          11,44 % > i
Maka rencana investasi dapat diteruskan
b. Titik impas

Suatu alat pengukur usaha dimana pada titik waktu tertentu dengan nillai produksi tertentu terdapat keseimbangan antara biaya usaha keseluruhan dengan penerimaan usaha.

Rumus PI         =          C        
                                (1-V/i)
                        =          Rp 8.140.200.000,-
                                    1 - Rp 2.613.400.000,-
                                          Rp 6.178.140.000,-
                        =         

Jadi      =          PI x 100%
                         I
            =



1 komentar: