Kamis, 08 Desember 2011

PENGARUH NUTRISI PROTEIN TERHADAP PERTUMBUHAN UNGGAS


PENGARUH NUTRISI PROTEIN TERHADAP PERTUMBUHAN UNGGAS
(tugas ilmu nutrisi ternak unggas)






Oleh:
I. MADE ADI JAYA
0614061038





JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009
BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latarbelakang
Protein berasal dari kata Yunani “proteios” yang berarti pertama atau kepentingan utama. Sesuai namanya, protein sangat penting sebagai penyusun dari semua kehidupan sel dan merupakan kelompok kimia terbesar didalam tubuh setelah air.

Sedangkan Nutrisi merupakan proses melengkapi sel makhluk hidup dengan zat-zat kimia yang diberikan dari luar agar makhluk hidup tersebut dapat berfungsi secara optimum dalam berbagai reaksi metabolisme untuk keperluan hidup pokok, pertumbuhan, berproduksi dan berketurunan. Daging rata-rata mengandung 75% air, 16% protein, 65% lemak , dan 3% abu. Protein merupakan komponen esensial dari inti sel dan protoplasma sel. Oleh sebab itu protein jumlahnya besar dalam jaringan otot karkas, organ-organ dalam, syaraf, dan kulit.

1.2. Komposisi dan Struktur Protein
Protein adalah senyawa organik yang sangat komplek dengan berat molekul tinggi. Seperti halnya karbohidrat dan lemak, protein tersusun dari unsur-unsur C, H, dan O. Umumnya protein mengandung 16% unsur N dan kadang-kadang mengandung unsur fosfor atau sulfur. Protein mempunyai struktur dasar yang berbeda dari makromolekul biologi penting lainnya seperti karbohidrat dan lemak. Karbohidrat dan lemak mempunyai struktur dasar yang disusun oleh unit-unit yang sama atau pengulangan unit yang sama (misalnya pengulangan unit glukosa dalam pati, glikogen dalam selulosa). Sedangkan protein mempunyai lebih dari 100 unit dasar penyusun yang berbeda. Unit dasar penyusun protein adalah asam-amino. Dengan demikian protein dapat tersusun oleh rangkaian asam-amino yang bervariasi dan berderet, tidak hanya dalam komposisi protein tetapi juga dalam bentuk protein. Struktur dasar protein dapat dilihat pada


Gambar 1.
Gambar 1. Struktur Dasar Protein.

1.3. Klasifikasi Protein
Berdasarkan bentuk, kelarutan dan komposisi kimianya, protein dapat diklasifikasternak kedalam tiga kelompok :

a. Protein Serat/Fibrosa
Protein fibrosa adalah protein hewani yang tidak larut yang pada umumnya tidak dapat dihancurkan oleh enzim penghancur. Protein fibrosa rantai-rantai peptidanya seperti filamen yang memanjang. Contoh yang termasuk protein fibrosa adalah kolagen (protein yang berperan dalam hubungan jaringan), elastin (terdapat dalam jaringan yang elastis seperti arteri dan tendon) dan keratin (yang terdapat dalam rambut, kuku, wool dan kuku mamalia).

b. Protein Globular
Protein globular adalah proyein yang berbentuk bulat. Protein globular rantai peptidanya melilit padat, contohnya adalah enzim, antigen dan hormon. Protein globular dapat dipecah lebih lanjut menjadi albumin (larut dalam air, dapat terkuagulasi oleh panas, terdapat pada telur, susu, darah dan tanaman), globulin (tidak larut dalam air atau larut sedikit demi sedikit, terdapat dalam telur, susu dan darah, dan gunanya sebagai cadangan protein yang terdapat dalam biji tanaman), dan histon (protein dasar yang berberat molekul rendah, larut dalam air, terdapat dalam inti sel yang bergabung dengan deoxyribonucleic acid - DNA).


c. Protein Konjugasi
Protein konjugasi adalah gabungan antara protein dan non protein. Contoh yang termasuk dalam kelompok ini adalah fosfoprotein (kasein dalam susu, fosfitin dalam kuning telur), glikoprotein (sekresi lendir), lipoprotein (memberan sel), kromoprotein (hemoglobin, hemosianin, sitokrom, flavoprotein) dan nucleoprotein (gabungan protein dengan asam nucleic yang terdapat dalam inti sel).

1.4. Sifat Kimia Protein
Protein di alam ditemukan dalam bentuk koloid, kelarutan protein di dalam air berbeda-beda, dari yang tidak larut (keratin) sampai yang mempunyai kelarutan tinggi (albumin). Protein dapat didenaturasi oleh panas, asam kuat, alkali, alkohol, aseton, urea dan garam dari logam berat. Denaturasi adalah proses yang mengubah struktur molekul tanpa memutuskan ikatan kovalen. Denaturasi dapat pula didefinisternak sebagai perubahan yang besar dalam struktur alami yang tidak melibatkan perubahan dalam urutan asam-amino. Denaturasi biasanya diiringi dengan hilangnya aktivitas biologi dan perubahan yang berarti pada beberapa sifat fisika dan fungsi. Jika protein didenaturasi, protein akan kehilangan struktur uniknya dan karena itu sifat-sifat kimia, fisik dan bilogi yang dimilikinya akan berubah. Contoh dalam kasus ini adalah enzim yang diinaktifkan oleh panas. Denaturasi dan koagulasi protein merupakan aspek kestabilan yang dapat berkaitan dengan susunan dan urutan asam-amino dalam protein.

1.5. Fungsi Protein
Fungsi protein pada unggas adalah sebagai berikut :
a) Sebagai zat pembangun, protein berfungsi untuk memperbaiki kerusakan atau penyusutan jaringan (perbaternak dan pemeliharaan jaringan) dan untuk membangun jaringan baru (pertumbuhan dan pembentukan protein).
b) Protein dapat dikatabolisasi menjadi sumber energi atau sebagai substrat penyusun jaringan karbohidrat dan lemak.
c) Protein diperlukan dalam tubuh untuk penyusun hormon, enzim dan substansi biologis penting lainnya seperti antibodi dan hemoglobin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kebutuhan Protein untuk Ayam yang Sedang Tumbuh
Perhitungan kebutuhan protein per hari pada ayam yang sedang bertumbuh :
Kebutuhan protein per hari untuk ayam yang sedang bertumbuh dapat dibagi menjadi 3
bagian :
1. Protein yang diperlukan untuk pertumbuhan jaringan
Keb. protein/hari (g) = Pertambahan Berat Badan (g) x 0.18
0.61

2. Protein untuk hidup pokok
Keb. protein / hari (g) = Berat Badan (g) x 0.0016
       0.61

3. Protein untuk pertumbuhan bulu
Keb. protein/ hari (g) = Pertambahan Berat Badan (g) x 0.07 x 0.82
          0.61

Ket :
0.18     = karena karkas ayam itu terdiri dari kira-kira 18% protein.
0.61     = efisiensi penggunaan protein atau retensi nitrogen sebesar 61%.
0.0016 = kehilangan nitrogen endogen pada ayam telah ditetapkan kira-kira 250 mg nitrogen per kilogram berat badan. Bila nitrogen itu dikalternak 6.25 (untuk protein) maka 1600 mg protein per kg berat badan hilang.
0.07    = pada umur 3 minggu bulu itu merupakan 4% dari berat badan, dan persentase itu akan meningkat menjadi 7% pada umur 4 minggu dan sesudah itu secara relatif akan tetap.
0.82    = kandungan protein bulu kira-kira 82%.

2.2. Kebutuhan Protein untuk Ayam Petelur
Kebutuhan protein untuk ayam petelur, dipengaruhi oleh :
(1) Besar dan bangsa ayam
(2) Suhu lingkungan
(3) Tahap produksi
(4) Perkandangan
(5) Ruang tempat makan per ekor
(6) Dalamnya tempat makan yang dijalankan otomatis
(7) Dipotong tidaknya paruh
(8) Luas ruang untuk ayam
(9) Air minum, dingin dan bersih
(10) Tingkat penyakit dalam kandang
(11) Kandungan energi dalam ransum.

Bila semua faktor tersebut di atas dapat diatasi, pada umumnya yang mempengaruhi kebutuhan protein adalah besar dan bangsa ayam, suhu lingkungan, tahap produksi, dan kandungan energi dalam ransum.

2.3. Defisiensi Protein
Tanda-tanda defisiensi protein atau asam amino esensial yaitu: defisiensi ringan mengakibatkan pertumbuhan menurun sesuai dengan derajat defisiensinya. Defisiensi protein yang hebat atau defisiensi sebuah asam amino tunggal menyebabkan segera berhentinya pertumbuhan dan kehilangan pertumbuhan rata-rata sebesar 6-7% dari berat badan per hari.

2.4. Kelebihan Protein
Tanda-tanda kelebihan protein atau asam amino esensial yaitu: kelebihan protein, meskipun semua asam amino esensial seimbang, mengakibatkan penurunan pertumbuhan yang ringan, penurunan penimbunan lemak tubuh, kenaternak tingkat asam urat dalam darah, litter menjadi basah karena banyak konsumsi air minum, kelenjar adrenal membesar dan meningkatnya adrenocortocosteroid.
2.5. Kualitas Protein dan Komposisi Asam Amino
Kualitas protein pada dasarnya ditentukan oleh komposisi asam amino dan ketersediaan biologisnya. Biasanya penentuan pola EAA protein diperkirakan dari kebutuhan EAA pakan, spesies, dan nilai skor kimia hasil uji biologis. Skor kimia 100 menunjukan suatu tingkat asam amino essensial dalam protein suatu bahan pakan sama dengan tingkat kebutuhan EAA untuk ternak (dinyatakan dalam persen dari total EAA serta cystine dan tyrosine). Skor kimia protein diambil dari persentase EAA suatu bahan pakan dibandingkan dengan pola kebutuhan.

Metode penilaian kualitas protein ini didasarkan pada konsep bahwa nilai protein tergantung kepada jumlah EAA dalam protein, yang dibandingkan terhadap referensi protein. Daging ternak ternyata mempunyai imbangan asam amino yang baik dan skor kimia tinggi (80). Kebanyakan sumber protein yang ada komposisi asam-aminonya tidak seimbang, sehingga tidak cocok digunakan sebagai satu-satunya sumber protein untuk ternak. Tujuan dari formulasi pakan adalah mencampur protein dari berbagai kualitas untuk mendapatkan pola EAA yang diinginkan oleh ternak.

Bentuk hubungan antara kualitas protein dengan pola EAA hanya akan baik jika tiap-tiap asam amino adalah sama dengan ketersediaannya dalam tubuh hewan. Contoh:

a. Dibawah kondisi tertentu beberapa asam amino mungkin tidak tersedia karena protein pakan tidak sempurna dicerna, seperti pada ternak karnivora yang enzim pencernaannya tidak dapat menghancurkan dinding sel selulosa yang terdapat dalam protein tanaman.
b. Adanya inhibitor enzim dalam protein pakan seperti tripsin inhibitor pada kedelai, walaupun inhibitor dapat diinaktifkan dengan perlakuan pemanasan.

Perlakuan pemanasan yang sangat tinggi berakibat pencernaan protein lebih resisten karena terjadi pembentukan ikatan-ikatan peptida antara rantai samping dari asam dikarboksil lysin. Kelompok amino bebas dari lysin mudah rusak karena panas, dapat membentuk senyawa tambahan dengan senyawa-senyawa non protein (Gula reduksi seperti glukosa) yang terdapat dalam bahan pakan Reaksi ini dikenal dengan reaksi Maillard dan menggambarkan nilai biologis lysin berkurang atau menjadi tidak ada. Selain gula reduksi, zat lain yang diketahui bereaksi dengan lysin adalah gossypol yaitu senyawa fenol yang terdapat dalam bungkil biji kapuk.

2.6. Evaluasi Kualitas Protein
Terlepas dari pengukuran kimia asam amino dan ketersediaannya dalam protein pakan, banyak metode biologis untuk menghitung kualitas protein, yaitu :

(i) Kecepatan Pertumbuhan Spesifik (SGR), yaitu suatu indek kesensitifan dari kualitas protein yang diperiksa dari berat yang diperoleh berdasarkan asam amino yang diberternak. Setiap saat SGR dapat dihitung menggunakan formula:
(ii) Feed Conversion Ratio (FCR), didefinisternak gram konsumsi pakan (Feed) per gram pertambahan berat tubuh (W).
(iii) Feed Efficiency (FE) didefinisternak sebagai gram pertambahan berat per gram pakan yang dikonsumsi.
(iv) Protein Effisiensi Ratio (PER) didefinisternak sebagai gram pertambahan berat per gram protein yang dikonsumsi.
(v) Penggunaan Netto Protein Nyata (Apprent Net Protein Utiliztaion) didefinisternak sebagai persentase protein yang ditimbun dalam jaringan.
ANPU = Pb – Pa
      Pi
Dimana :
Pb = total protein tubuh pada akhir percobaan
Pa = total protein tubuh pada awal percobaan
Pi = jumlah protein yang dikonsumsi selama percobaan

Perhitungan ini tidak berlaku untuk protein yang terdapat dalam endogenous. Berbeda dengan metode perhitungan yang lain, metode ini memerlukan sampel yang reprentatif dari hewan yang akan dibuat percobaan dari awal dan akhir perlakuan untuk analisis protein karkas. Kesulitan metode ini adalah dalam memperkirakan zat gizi atau kualitas protein yang mana harus dilakukan dalam kondisi percobaan terkontrol tanpa adanya pakan alami karena itu metode ini hanya dapat dilakukan dalam system pembudidayaan yang intensif atau dalam “clean water”.




























BAB III
RINGKASAN


Protein adalah komponen utama dalam jaringan tubuh unggas. Persentasinya di dalam tubuh unggas berada dalam posisi ke dua setelah air, yaitu berkisar antara 18 – 30%. Protein merupakan suatu polimer heterogen dari ratusan bahkan ribuan molekul senyawa asam amino. Sejumlah asam amino akan saling berikatan satu sama lain dengan perantaraan ikatan peptida untuk membentuk protein.

Tingkat kebutuhan protein bagi setiap jenis unggas tidak sama, bahkan pada satu species unggas yang sama, kebutuhan proten dapat berbeda. Unggas membutuhkan protein sekitar 24 – 57 persen dari berat total makanan, namun kebutuhan optimumnya berkisar antara 30 – 36 persen. Jika protein yang dikonsumsi tidak mencapai kebutuhan akan mengganggu kecepatan pertumbuhan.

Biaya yang diperlukan untuk menyediakan protein di dalam makanan dapat mencapai lebih dari 60 persen dari biaya pakan unggas, penggunaan protein seoptimal mungkin sangat penting dalam pemeliharaan unggas. Pengetahuan tentang sumbersumber pakan perlu dipelajari, antara lain mengenai : harga, ketersediaan, komposisi zat pakan termasuk asam amino dan kecernaannya dalam tubuh unggas.

Pengelolaan dan pencampuran sumber-sumber pakan yang tidak baik dapat berakibat kurang tersedianya protein atau asam amino pakan yang dapat dicerna. Hal ini disebabkan karena ketersediaan asam amino dan protein pada pakan antara lain dipengaruhi oleh: keseimbangan asam amino esensial yang tersedia dalam pakan, perlakuan panas dan kimia terhadap pakan, pencucian pakan di dalam air, kandungan serat kasar pakan, serta kandungan sumber energi lain di dalam pakan seperti lemak dan karbohidrat.


Kualitas protein pada dasarnya ditentukan oleh komposisi asam amino dan ketersediaan biologisnya. Biasanya penentuan pola EAA protein diperkirakan dari kebutuhan EAA pakan, spesies, dan nilai skor kimia hasil uji biologis. Skor kimia 100 menunjukkan suatu tingkat asam amino essensial dalam protein suatu bahan pakan sama dengan tingkat kebutuhan EAA untuk ternak (dinyatakan dalam persen dari total EAA serta cystine dan tyrosine). Skor kimia protein diambil dari persentase EAA suatu bahan pakan dibandingkan dengan pola kebutuhan. Metode penilaian kualitas protein ini didasarkan pada konsep bahwa nilai protein tergantung kepada jumlah EAA dalam protein, yang dibandingkan terhadap referensi protein.


























DAFTAR PUSTAKA


Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Edisi kesatu. PT Gramedia, Jakarta.

Baker, D.H. and J. Parson. 1990. Recent Advances in Amino Acid Nutrition. Adjinomoto Co., Inc.

Crampton, E.W. and L.E. Harris. 1969. Applied Animal Nutrition. 2 nd Ed., W.H. Freeman and Company, Inc., Reston Virginia.

Ewing. 1963. Poultry Nutrition. 5th Edition. The Ray Ewing Co., Pasadena, California.

Harper, J.M. and D.H. Baker. 1978. Factor Affecting Methionine Toxicity and Its Alleviation in the Chick Physio.

Maynard, L.A. and J.K. Loosli. 1962. Animal Nutrition. Fifth Edition. McGraw-Hill Book Co., New York, Toronto, London.

Mc.Donald, P., R.A. Edwards, and J.F.D. Greenhalgh. 1978. Animal Nutrition. 4th. Ed., John Willey and Sons. Inc., New York.

Scott, M.L., M.C. Nesheim, and R.J. Young. 1982. Nutrition of The Chickens. 3rd Ed. M.L. Scott and Associates Ithaca, New York.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar