Kamis, 08 Desember 2011

MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERAH PADA KELOMPOK TANI TERNAK SETUJU LEMBU POANG PURWOASRI METRO


MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERAH PADA KELOMPOK TANI TERNAK SETUJU LEMBU POANG PURWOASRI METRO
(Laporan Kunjungan Lapang MK Manajemen Usaha Ternak Perah)


Oleh :
Kelompok 7
DANI ARIESTAMA             (07140610   )
FURI NURSYAMSI              (0714061040)
I MADE ADI JAYA              (06140610   )
IVAN ZULFIKAR                 (0714061045)
SRI SEVTIA AYUNING       (0714061060)


LOG Unila


JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2010




KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan HidayahNYA lah laporan ini dapat terselesaikan. Terima kasih penyusun ucapakan kepada bapak Arif Qisthon, bapak Yusuf, Ibu Mucharomah.P sebagai dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Usaha Ternak Perah, teman-teman sesama praktikan, warga desa purwoasri, dan bapak-bapak anggota kelompok tani ternak setuju lembu poang yang mana telah memperkenankan kami untuk dapat melakukan kegiatan turun lapang ini di desa Purwoasri tersebut. Dan kepada berbagai pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan ini.

Laporan ini disusun sebagai syarat penilaian praktikum mata kuliah manajemen usaha ternak perah. Dan laporan ini juga menjelaskan tentang keadaan manajemen peternakan sapi perah yang ada di daerah Purwoasri Metro Lampung Tengah. Dengan nama Kelompok Tani Ternak Setuju Lembu Poang.

Sekali lagi penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

                                                                             Bandar lampung, 03 Januari 2010
                                                                                                Penyusun




HALAMAN PENGESAHAN


Judul Laporan                           : Manajemen Peternakan Sapi Perah Di Kelompok   
                                                  Tani Ternak setuju Lembu Poang
Tempat kunjungan                    : Desa Purwoasri Metro Lampung Tengah
Tanggal kunjungan                    :      Desember 2009
Nama                                       :  I MADE ADIJAYA              (07140610    )
                                                  DANI ARIESTAMA (07140610    )
                                                  IVAN ZULFIKAR                (0714061045)
                                                  FURI NURSYAMSI             (0714061040)
                                                  SRI SEVTIA. A                     (0714061060)
Kelompok                                : 7 (tujuh)
Jurusan                         : Peternakan
Fakultas                                   : Pertanian

                                                                   Bandar Lampung, 03,Januari 2010
                                                                                   Mengetahui,
                                                      Dosen Pembimbing








DAFTAR ISI

                                                                                                              Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………………...i
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………..ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………….…...iii

I.          PENDAHULUAN
A.        Latar belakang………………………………………………...1
B.        Tujuan………………………………………………………....2
II.       TINJAUAN PUSTAKA……………………………………….…...3
III.     METODE KERJA
A.        Alat dan Bahan…………………………………….…………..8
B.        Cara Kerja……………………………………………………..9
IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN
A.        Hasil Pengamatan…………………………………………….10
B.        Pembahasan…………………………………………………..11
V.       KESIMPUILAN…………………………………………………...17

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



I.         PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Pengembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia (on farm) beserta industri belum begitu maju pesat, dan kurang berkembang. Untuk memperbaiki keadaan ini dibutuhkan usaha yang keras dari segala komponen yang terkait, mulai dari peternak sampai dengan pemerintah.

Sistem peternakan sapi perah yang ada di Indonesia masih merupakan jenis peternakan rakyat yang hanya berskala kecil dan masih merujuk pada sistem pemeliharaan yang konvensional. Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat tergantung dari keterpaduan langkah terutama di bidang pembibitan (Breeding), pakan, (feeding), dan tata laksana (management). Ketiga bidang tersebut kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan ketrampilan peternak serta masih melekatnya budaya pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah yang baik sehingga akan berdampak pada peningkatan produksi dan ekonomi.

Mata kuliah Manajemen Usaha Ternak Perah mengadakan kunjungan lapang ke peternakan sapi perah milik rakyat. Peternakan sapi perah yang tergabung dalam kelompok tani ternak setuju lembu poang berdiri pada tahun 2002, yang merupakan sub-kelompok tani setuju desa Purwoasri kota Metro. Awal berdirinya kelompok tani ini dipelopori oleh 5 orang yang merasa perduli pada perkembangan potensi peternakan yang ada di desa tersebut. Awal berdirinya kelompok tani ini, mendapat bantuan sapi sebanyak 5 ekor. Dari tahun-ke tahun semakin bertambah bantuan sapi yang ada.

B.     Tujuan
Tujuan dari diadakannya kunjungan lapang ini adalah :
1.   Mengenalkan mahasiswa kepada peternakan sapi perah rakyat.
2.   Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami manajemen pemeliharaan sapi perah.
3.   Mahasiswa dapat mengetahui cara pemerahan, perkawinan atau reproduksi dan handling susu serta pemasaran.











II.   TINJAUAN PUSTAKA


Ternak perah adalah ternak yang dapat memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan dapat mempertahankan produksi susu sampai jangka waktu tertentu walaupun anaknya sudah disapih atau lepas susu.  Jenis ternak perah yang ada antara lain sapi perah, kambing perah dan kerbau perah.  Ternak perah diperlihara khusus untuk diproduksi susunya. Produksi susu nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi nasional.  Dengan demikian impor susu dan produk susu tetap dilaksanakan.  Proyeksi produksi susu, konsumsi susu dan  impor susu akan terus meningkat, sehingga perlu peningkatan populasi dan efisiensi produksi susu serta diversifikasi ternak perah.  Pemeliharaan kambing perah merupakan salah satu alternative upaya diversifikasi ternak perah dan peningkatan produksi susu (Warmanto, 2000).

Sapi Friesian Holstein
Sapi ini juga dikenal dengan nama Fries Holland atau sering disingkat FH. Di Amerika bangsa sapi ini disebut Holstein, dan di negara-negara lain ada pula yang menyebut Friesien. Tetapi di Indonesia sapi ini popular dengan sebutan FH. Sapi FH merupakan populasi terbesar, bahkan hampir di seluruh dunia, baik di negara-negara sub-tropis maupun tropis.Bangsa sapi ini mudah beradaptasi di tempat baru. Di Indonesia populasi bangsa sapi FH ini juga yang terbesar diantara bangsa-bangsa sapi perah yang lain. Di Indonesia, kecuali menggunakan sapi FH murni sebagai sapi perah, khususnya di Jawa Timur, banyak pula diternakkan sapi Grati, yakni hasil persilangan antara Friesian Holstein dan sapi lokal Ongole.

Pemeliharaan Sapi Perah
Pada manajemen pemeliharaannya, sebelum memulai beternak sapi perah, banyak hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan secara matang, karena ini sangat menentukan keberhasilan peternakan.  Minimal ada 3 hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan, yakni lokasi kandng dan lahan Hijauan Makanan Ternak (HMT), ketersediaan air, serta keberadaan bibit sapi perah.

Manajemen Perkandangan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Perkawinan
Secara umum hampir sama waktunya. Biasanya selain ditentukan oleh umur juga ditentukan oleh bobot badan sapi apakah sapi sudah dapat dikawinkan apa belum. Untuk sapi FH pertama kali dapat dikawinkan pada umur 18 bulan dengan bobot badan ± 363 kg.
·        Manajemen Pemerahan
Persiapan Pemerahan
Yang harus diperhatikan dalam persiapan pemerahan yaitu :
1.      Bersihkan kandang tempat pemerahan dari segala kotoran.
2.      Sapi yang hendak diperah ambingnya,cuci atau bersihkan badannya untuk mencegah kotoran-kotoran yang menempel pada bagian-bagian tersebut jatuh dalam susu pada waktu sapi tersebut diperah.
3.      Beri pakan konsentrat lebih dahulu supaya sapi tersebut dalam keadaan tenang.
4.      Alat-alat susu (ember susu, kan susu) harus bersih, oleh karena itu alat-alat susu yang dipakai untuk. menampung dan menyimpan susu sebelumnya harus dicuci bersih. Dalam pembersihan alat-alat susu tersebut sebaiknya menggunakan air sabun (detergen) yang hangat-hangat kuku dan memakai sikat untuk menghilangkan bekas-bekas susu yang masih menempel pada alat susu tersebut. Jangan pakai serbet atau lap, karena lap hanya melicinkan atau meratakan kotoran. Kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.
5.      Mengikat ekor, terutama dilakukan pada sapi-sapi yang sering mengibas-ngibaskan ekornya, karena dapat mengganggu pemerah dan kotoran yang terdapat pada ekor sapi tersebut dapat mencemari susu dalam ember yang dipakai untuk memerah. Sebaiknya ujung ekor sapi tersebut diikatkan pada salah satu kaki belakangnya.
6.      Mencuci ambing perlu dilakukan untuk mengurangi pencemaran kuman daiam susu, agar susu yang dihasilkan bersih dan tidak mudah rusak. Disamping itu pencucian ambing akan menggertak keluarnya susu dan memudahkan pemerahan. Ambing dicuci dengan air bersih yang panas (50--60°C) dengan menggunakan lap yang bersih, kemudian ambing yang telah dicuci bersih dikeringkan dengan memakai handuk yang kering dan bersih. Pencucian ambing akan lebih baik bila dilakukan dengan cairan chloor yang mengandung 150--200 mg chloor per liter air.
7.      Orang yang memerah hendaknya tangannya bersih dan memakai pakaian yang bersih.
8.      Uji mastitis hendaknya dilakukan setiap melakukan pemerahan yaitu dengan memerah pakai tiga jari {ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah) pada setiap puting 2 atau 3 pancaran susu ke cangkir atau piring alumunium yang bagian dalamnya dicat hitam untuk mengetahui ada tidaknya kelainan susu yang terdapat dalam susu misalnya : darah, atau nanah. Hal ini menunjukkan adanya mastitis {radang ambing). Puting yang mengeluarkan susu abnormal harus disishkan lebih dulu dan diperah yang terakhir sesudah selesai memerah sapi-sapi yang sehat ambingnya. Susu yang abnormal harus dipisahkan dari susu yang baik, sebab bila dicampur akan mengakibatkan kerusakan pada semua susu hasii pemerahan, Susu yang abnormal setetah dimasak dapat diberikan pada anak sapi, jika kualitasnya tidak begitu buruk.



Manajemen kesehatan
Program kesehatan dalam peternakan sapi perah harus dijalankan secara teratur, terutama di wilayah yang sering terjadi penyakit menular, seperti TBC, brucellosis, PMK, radang limpa. Di wilayah dengan penyakit tersebut hendaklah sapi diberikan vaksinasi secara teratur dan melakukan sanitasi dan desinfeksi pada kandang, peralatan dan pekerja kandang.

Manajemen  Produksi
Susu segar yang dihasilkan harus segera ditangani dengan cepat dan benar. hal ini disebabkan sifat susu segar yang sangat mudah rusak dan mudah terkontaminasi.

faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, yaitu bila kualitas pakan baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup maka pertumbuhan ternak menjadi cepat dan akan terjadi sebaliknya bila pakan yang diberikan berkualitas jelek. (TILLMAN et al. (1998)).

Komponen hijauan merupakan pakan utama ternak sapi perah untuk meningkatkan produksi susu, ditambah pakan penguat. Di daerah sentra ternak sapi perah dibutuhkan ketersediaan hijauan rumput unggul sebagai pakan secara kontinyu baik pada musim kemarau ataupun musim penghujan. Kondisi ini merangsang peternak yang mempunyai lahan menanam rumput gajah, karena penghasilannya menguntungkan dibandingkan dengan tanaman pangan atau hortikultura. Dengan potensi sumberdaya lahan yang memenuhi syarat tumbuh rumput gajah, menanam rumput gajah tidak tergantung musim. Pada musim kemarau bisa dipanen dua kali dan pada musim penghujan bisa tiga kali, sedangkan masa produksinya sampai tiga tahun ( Prasetyo, A 2005 ).

























III.      METODE KERJA

A.     Alat dan Bahan
·      Sample sapi
·      Pita ukur
·      Meteran
·      Recording
·      Alat tulis
·      Sepatu boot
·      Jas leb
·      Kamera digital

B.     Cara Kerja
Pengkajian atau pengamatan ini dilakukan pada kelompok tani ternak (KTT) sapi perah Setuju Lembu Poang desa Purwoasri Metro. Materi ternak sapi perah yang digunakan sebanyak 4 ekor yang berasal (dilahirkan) induk sapi perah Peranakan Friesian Holstein (PFH).
Metode kerja praktikum ini adalah dengan :

melakukan pengamatan terhadap peternakan sapi perah kelompok tani“Ternak Setuju Lembu Poang” desa Purwoasri kota Metro
melakukan Tanya jawab atau diskusi dengan pengelola peternakan sapi perah,

melakukan pengisian recording dan kuisioner yang telah diberikan

melakukan pengukuran kandang (panjang, lebar, tinggi), dan membuat lay out kandang

mengukur lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak sapi perah untuk menghitung bobot tubuh menggunakan rumus schroorl.

Dalam pengamatan ini juga dilakukan pengamatan terhadap manajemen pakan, pemeliharaan, kebersihan kandang, kebersihan dan kesehatan sapi, produksi dan reproduksi sapi, serta pemerahan yang dilakukan ditempat berbeda, yaitu di kandang milik ketua kelompok tani ternak setuju lembu poang.












IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

                                                                                 3,5 m





Tempat jerami     
 
Dari pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil yang berupa data hasil diskusi dan juga lay out perkandangan;

Text Box: Kandang sapi

10,5 m
Text Box: Kolam bio gas
Text Box: Kolam ikan

Kandang lama / tempat penyimpanan onggok (sekarang)
 
Up-Down Arrow Callout: Pintu masuk
 












Gambar 1. lay out kandang


B. Pembahasan
Ternak perah adalah ternak yang dapat memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan dapat mempertahankan produksi susu sampai jangka waktu tertentu walaupun anaknya sudah disapih atau lepas susu.  Jenis ternak perah yang ada antara lain sapi perah, kambing perah dan kerbau perah.  Ternak perah diperlihara khusus untuk diproduksi susunya.

Sistem peternakan sapi perah yang ada di Indonesia masih merupakan jenis peternakan rakyat yang hanya berskala kecil dan masih merujuk pada sistem pemeliharaan yang konvensional. Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat tergantung dari keterpaduan langkah terutama di bidang pembibitan (Breeding), pakan, (feeding), dan tata laksana (management). Ketiga bidang tersebut kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan ketrampilan peternak serta masih melekatnya budaya pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah yang baik sehingga akan berdampak pada peningkatan produksi dan ekonomi.

Pemeliharaan sapi perah pada umumnya bertujuan untuk memperoleh susu dan anak sapi (pedet). Produksi susu yang diperoleh merupakan hasil harian bagi peternak sapi perah, sedangkan pedetnya dapat digunakan sebagai ternak pengganti atau dapat dijual sewaktu-waktu apabila peternak membutuhkan uang tunai.
Kebanyakan masyarakat desa Purwoasri merupakan petani tanaman pakan,hortikultura. Namun ada 13 KK yang juga merupakan peternak, yaitu sapi perah. Peternakan sapi perah ini  tergabung dalam kelompok tani ternak setuju lembu poang berdiri pada tahun 2002, yang merupakan sub-kelompok tani setuju desa purwoasri metro lampung tengah.Awal berdirinya kelompok tani ini dipelopori oleh 5 orang yang merasa perduli pada perkembangan potensi peternakan yang ada di desa tersebut. Dengan jumlah awal sapi 10 ekor. Kelompok tani ternak ini di ketuai oleh bapak Suwondo, kemudian sekretarisnya adalah bapak Sarji. Dengan beranggotakan bapak Supri, bapak Dwi Wiyoto, bapak Wiman. Bantuan sapi pertama yang didapatkan oleh kelompok tani ternak ini sebanyak 5 ekor yang didatangkan dari pulau Jawa. Tahun 2003 bertambah 5 ekor. Kemudian tahun – tahun berikutnya terus mendapatkan bantuan lagi, masing-masing 2006 sebanyak 15 ekor, 2007 sebanyak 10 ekor. Pada tahun-tahun tersebut bantuan yang didapat tidak hanya berupa sapi, tetapi seperti pada tahun 2007 bantuan yang didapatkan berupa kamar susu, pompa air, unit pengolahan limbah, pabrik pakan mini, dan alat pengolahan pakan. Tahun berikutnya 2008 bantuan yang didapat dengan program Agribisnis sapi perah berupa dana Rp300.000.000,- . bantuan ini oleh kelompok tani ternak setuju lembu poang di belikan sapi perah sebanyak 14 ekor dan juga dana untuk perbaikan kandang juga pendirian kandang baru. sekarang jumlah anggota 13 orang. Salah seorang anggota dari kelompok tani ternak setuju lembu poang yang kami wawancara adalah bapak Nugroho, yang memiliki 5 ekor sapi dengan 4 ekor sapi perah dan 1 ekor sapi pedaging dan dengan umur yang berbeda-beda.

Manajeman pemeliharaan yang dilakukan pada ternak milik bapak Nugroho pada dasarnya sama seperti peternak sapi perah pada umumnya. Sesuai dengan data wawancara yang didapat yaitu;

1. Pemeliharaan kebersihan
Yang diperhatikan adalah kebersihan dari sapi tersebut, dengan memandikannya,  ini dimaksudkan untuk kebersihan badan dan kulit sapi agar terbebas dari mikroorganisme, parasit yang dapat menimbulkan penyakit. selain itu juga agar dala produksi susu yang dihasilkan bersih dari kotoran dan juga agar sapi tetap sehat karena respirasi kulit baik sehingga metabolisme akan baik juga. Selain itu kandang juga perlu diperhatikan kebersihannya dengan rajin dibersihkan setiap hari pagi dan sore.

Dalam pemeliharaan sapi perah milik bapak Nugroho ini tidak pernah dilakukan pemotongan kuku, dishorning dan dehorning. Karena tanpa dilakukan itu semua kuku dan tanduk tidak menggangu laju pertumbuhan dan juga produksi susu sapi-sapi tersebut.

2. Manajemen pakan dan minum
Pemberian pakan dan minum pada peternakan ini dilakukan secara ad libitum. Dengan pemberian pada pagi hari berupa rumput gajah / kolonjono, pada siang hari diberikan konsentratDengan pakan berupa hijauan dan konsentrat sekitar 2 kg dengan ditambahkan onggok sebanyak 1 ember (onggok basah), kemudian sore hari diberikan lagi rumput. Minum yang diberikan sedikit di berikan dedak didalamnya, karena jika hanya dengan air saja sapi tidak mau minum.

Hijauan yang diberikan pada ternak berupa jenis rumput gajah, kolonjono dan tebon (jagung). Pakan berupa hijauan ini didapatkan oleh Bapak Nugroho dari lahan sendiri. Selain hijauan dan konsentrat. Secara keseluruhan di kelompok tani ternak ini bahan konsentrat yang sering dipakai dan tersedia adalah bungkil kelapa sawit,onggok,dedak, hijauan ( batang jagung muda).

3. Pengendalian penyakit
Masalah  yang umumnya terjadi pada teranak sapi perah disini adalah Roboh. Dan ini biasanaya terjadi pada induk. Ini diduga karena kurangnya adaptasi ternak tersebut terhadap iklim daerah desa tersebut. Karena umumnya induk yang roboh merupakan induk baru datang atau pertama kali melahirkan. Masalah kesehatan lain sama seperti pada umumnya. Untuk mencegah ini semua dilakukan pengobatan rutin 3 bulan sekali dari Poskeswan. Pengobatan yang dilakukan berupa pemberian vitamin, pemberian obat cacing, dengan metode cekok dan injeksi, lalu sering juga ditambahkan mineral pada air minum.

4. Manajemen Perkandangan
Peternakan yang kami amati memiliki 1buah kandang dengan ukuran panjang kandang 10,5 m lebar 3,5 m tinggi 3 meter. Tiang pada kandang menggunakan paralon dengan diameter 22,5 cm. bahan yang digunakan pada pembuatan kandang berupa batako, semen, pasir, genteng, paku, paralon, kayu balok dengan modal keseluruhan ± Rp 2.000.000,-. Untuk kapasitasnya sendiri kandang ini memiliki 3 blok yang masing-masing 1 bloknya untuk 3 ekor sapi perah.
Dilokasi kandang yang kami amati terdapat 1 buah kandang lama yang beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan onggok, lalu pada bagian belakang kandang terdapat bak untuk pembuatan bio gas, namun sudah lama tidak berfungsi. Kandang ini juga memiliki sebuah pondokan yang biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan pakan hijauan.

5.    Manajemen Pemerahan
proses pemerahan yang kami lihat berbeda temapat yaitu pada ternak milik bapak Supriyono. Karena pada sapi milik bapak Nogroho belum bias diperah. Frekuensi pemerahan dan waktu pemerahan yaitu 2 kali dalam satu hari, pada waktu setelah subuh dan pada waktu sore hari yaitu sekitar pukul 17.00 wib. kegiatan yang dilakukan pada waktu persiapan pemerahan yaitu :
1.   membersihkan kandang dari kotoran sapi;
2.   memandikan sapi;
3.   mengikatkan sapi pada tiang penyangga kandang;
4.   menyediakan ember penampung susu yang bersih;
5.   membersihkan ambing dan puting dari kotoran yang menempel dan 
    diberikan PK agar lebih steril.

6.    Manajemen Perkawinan
Pada peternakan kelompok tani ternak setuju lembu poang 90 % adalah dengan system perkawinan buatan (IB). dengan umur ± 1,5 tahun. rata-rata S/C adalah 1 sehingga tidak perlu melakukan IB berulang kali, Calving interval terjadi selama 12--18 bulan dengan jarak beranak (service period) 4--5 bulan sedangkan yang baik adalah berkisar antara 2 bulan. Munculnya kembali birahi setelah beranak yaitu 40--60 hari.

Induk sapi yang roboh juga diduga karena kekurangan mineral, karena itu bapak Nugroho memberikan Ultra Mineral kedalam tambahan air minum sapi. Kami dapatkan bahwa Ultra mineral tersebut,mengandung :
Komposisi :
Ø      Calsiun Carbonat 50%
Ø      Phosphor 25%
Ø      Manganese 0,35%
Ø      Iodium 0,20%
Ø      Kalium 0,10%
Ø      Capprum 0,15%
Ø      Sodium Clorine 23.5%
Ø      Iron 0,80%
Ø      Zincum 0,20%
Ø      Magnesium 0,150%

Aturan pakai :
Ø      2 kg UM untuk pencegahan dalam 100 kg Makanan penguatnya setiap hari
Ø      Untuk pengobatan manggunakan 4 kg Um dalam 100 kg makanan penguat setiap hari



V.      KESIMPULAN

Dari pengamatan dan pembahasan yang kami lakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

Ø        Kendala yang sering dialami dan sampai saat ini masih terjadi adalah roboh  
       pada induk, ini dikarenakan kurang adaptasi terhadap iklim.

Ø        Untuk pemasaran dari produksi susu yang dihasilkan dilakukan oleh anggota
      masing-masing pemilik kepada warga sekitar.

Ø        Bantuan rumah susu yang didapatkan oleh kelompok tani ternak setuju lembu
      poang kurang berfugsi, karena produksi susu yang dihasilkan masih kurang
      dari target produksi.










DAFTAR PUSTAKA


Afton Atabany, Oktober  2002 Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

ANGGORODI, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Jakarta.


Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP.

Sutardi, T dan M. Djohari.  1979.  Hubungan kondisi faali sapi laktasi dengan kebutuhan makanannya.  Bull.  Makanan Ternak.  Fakultas Peternakan IPB.  Bogor,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar