Kamis, 08 Desember 2011

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN PADA PEDET


MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN PADA PEDET
(tugas manajemen ternak perah)









Oleh:
Anggi Nugroho (0614061018)
Andik Kristiawan (0614061015)
I.Made Adi Jaya (0614061038)





JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Balakang

Produktivitas sapi perah di Indonesia termasuk rendah yaitu bervariasi dari 3000 –  4000 liter per 305 hari laktasi (kurnianto, 1991; gusrianto 1994; nahyyudin et al., 1996; talib et al., 1999) dimana persentase terbesar mempunyai kapasitas produksi yang lebih rendah dari 3500 liter perlaktasi dan hanya sekitar 3% yang berproduksi lebih besar dari 5000 liter (TALIB et al., 1999). Rendahnya produksi ini merupakan akibat dari buruknya kondisi sapi dara dan pejantan sebelum dikawinkan. Di tingkat peternak hal ini dapat terjadi bila pada fase pertumbuhan (pra-sapih dan pembesaran) mengalami kesalahan dalam pemeliharaan kesehatan dan menajemen pakan, yaitu mengoreksi kualitas dan jumlah pemberiannya.

Diharapkan dengan perbaikan manajemen pemeliharaan terutama pemberian pakan, pertumbuhan pedet optimal sehingga menghasilkan bakalan yang produktif. Pada fase lepas sapih di dataran tinggi pertumbuhan pedet jantan dapat mencapai 1 kg/hari dengan pemberian konsentrat berkadar protein 17% sebanyak 6 kg/ekor, sedangkan pertumbuhan lanjutan di Balai Penelitian Ternak Ciawi dengan rumput raja ad libitum dan konsentrat (16% protein) sebanyak 4 kg/ekor/hari dapat menghasilkan pertambahan bobot badan 0,68 – 0,76 kg/ekor/hari (SUPARYANTI, 2002). Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui menajemen pemeliharaan yang tepat dalam mempercepat pertumbuhan.

Upaya pengoptimalan hasil dalam usaha budidaya ternak khususnya ternak sapi tidak dapat terlepas dari tiga unsur, yaitu bibit, manajemen dan pakan. Pakan ternak memberikan sumbangsih keberhasilan yang sangat signifikan dalam usaha ini. Karena selain menyajikan unsur hara atau nutrisi yang penting juga biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu mencapai 70-80 %. Sehingga segala upaya guna menyajikan bentuk pakan yang mampu memenuhi kebutuhan gizi sapi serta memberikan efisiensi secara ekonomis tentunya sangatlah dibutuhkan. Dengan harapan produktivitas tampil secara optimal dan keuntunganpun dapat dicapai secara signifikan.

Pakan mempunyai peranan yang sangat penting didalam kehidupan ternak. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrisi yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan , reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta laktasi (produksi susu). Alasan lain mengapa pakan menjadi salah satu faktor terpenting selain bibit dan manajemen di dalam pemeliharaan ternak, khususnya ternak sapi. Kita ketahui bahwa biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total biaya produksi yaitu mencapai 70-80 %. Kelemahan sistem produksi peternakan umumnya terletak pada ketidakpastian tatalaksana pakan dan kesehatan. Keterbatasan pakan menyebabkan daya tampung ternak pada suatu daerah menurun atau dapat menyebabkan gangguan produksi dan reproduksi yang normal.

















BAB II
PUSTAKA

Manajemen pemeliharaan pedet merupakan salah satu bagian dari proses penciptaan bibit sapi yang bermutu.  Untuk itu maka sangat diperlukan penanganan yang benar mulai dari sapi itu dilahirkan sampai mencapai usia sapi dara.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya :

I.    Penanganan Pedet pada saat lahir
-    Bersihkan semua lendir yang ada dimulut dan hidung harus dibersihkan demikian pula yang ada dalam tubuhnya menggunakan handuk yang bersih.
-    Buat pernapasan buatan bila pedet tidak bisa bernapas.
-    Potong tali pusarnya sepanjang 10 cm dan diolesi dengan iodin untuk mencegah infeksi lalu diikat.
-    Berikan jerami kering sebagai alas.
-    Beri colostrum secepatnya paling lambat 30 menit setelah lahir.

II.    Pemberian Pakan Anak Sapi / Pedet
Pedet yang terdapat di BET semaksimal mungkin mendapatkan asupan nutrisi yang optimal. Nutrisi yang baik saat pedet akan memberikan nilai positif saat lepas sapih, dara dan siap jadi bibit yang prima.  Sehingga produktivitas yang optimal dapat dicapai.   Pedet yang lahir dalam kondisi sehat serta  induk sehat di satukan dalam kandang bersama dengan induk dengan diberi sekat agar pergerakan pedet terbatas.  Diharapkan pedet mendapat susu secara ad libitum, sehingga nutrisinya terpenuhi. 
Selain itu pedet dapat mulai mengenal pakan yang dikonsumsi induk yang kelak akan menjadi pakan hariannya pedet tersebut setelah lepas sapih.   Perlakuan ini haruslah dalam pengawasan yang baik sehingga dapat mengurangi kecelakaan baik pada pedet atau induk.
Bagi pedet  yang sakit, pedet dipisah dari induk dan dalam perawatan sampai sembuh sehingga pedet siap kembali di satukan dengan induk atau induk lain yang masih menyusui.  Selama pedet dalam perawatan susu diberikan oleh petugas sesuai dengan umur dan berat badan.

a.   Proses Pencernaan Pada Sapi Pedet.
Untuk dapat melaksanakan program pemberian pakan pada pedet, ada baiknya kita harus memahami dulu susunan dan perkembangan alat pencernaan anak sapi.  Perkembangan alat pencernaan ini yang akan menuntun bagaimana langkah-langkah pemberian pakan yang benar.
Sejak lahir anak sapi telah mempunyai 4 bagian perut, yaitu : Rumen (perut handuk), Retikulum (perut jala), Omasum (perut buku) dan Abomasum (perut sejati).  Pada awalnya saat sapi itu lahir hanya abomasum yang telah berfungsi, kapasitas abomasum sekitar 60 % dan menjadi 8 % bila nantinya telah dewasa.  Sebaliknya untuk rumen semula 25 % berubah menjadi 80 % saat dewasa.  Waktu kecil pedet hanya akan mengkonsumsi air susu sedikit demi sedikit dan secara bertahap anak sapi akan mengkonsumsi calf starter (konsentrat untuk awal pertumbuhan yang padat akan gizi, rendah serat kasar dan bertekstur lembut) dan selanjutnya belajar menkonsumsi rumput.  Pada saat kecil, alat pencernaan berfungsi mirip seperti hewan monogastrik.
Pada saat pedet air susu yang diminum akan langsung disalurkan ke abomasum, berkat adanya saluran yang disebut “Oeshopageal groove”.  Saluran ini akan menutupi bila pedet meminum air susu, sehingga susu tidak jatuh ke dalam rumen.  Bila ada pakan pada baik konsentrat atau rumput, saluran tersebut akan tetap membuka, sehingga pakan padat jatuh ke rumen.  Proses membuka dan menutupnya saluran ini mengikuti pergerakan refleks.  Semakin besar pedet, maka gerakan reflek ini semakin menghilang.  Selama 4 minggu pertama sebenarnya pedet hanya mampu mengkonsumsi pakan dalam bentuk cair.
Zat makanan atau makanan yang dapat dicerna pada saat pedet adalah : protein air susu casein), lemak susu atau lemak hewan lainnya, gula-gula susu (laktosa, glukosa), vitamin dan mineral.  Ia mampu memanfaatkan lemak terutama lemak jenuh seperti lemak susu, lemak hewan, namun kurang dapat memanfaatkan lemak tak jenuh misalnya minyak jagung atau kedelai.  Sejak umur 2 minggu sapi pedet dapat mencerna pati-patian, setelah itu secra cepat akan diikuti kemampuan untuk mencerna karbohidrat lainnya (namun tetap tergantung pada perkembangan rumen).  Vitamin yang dibutuhkan pada saat pedet adalah vitamin A, D dan E.  Pada saat lahir vitamin-vitamin tersebut masih sangat sedikit yang terkandung di dalam kolostrum sehingga perlu diinjeksi ketiga vitamin itu pada saat baru lahir.
Dalam kondisi normal, perkembangan lat pencernaan dimulai sejak umur 2 minggu.  Populasi mikroba rumennya mulai berkembang setelah pedet mengkonsumsi pakan kering.  Semakin besar pedet maka ia akan mencoba mengkonsumsi berbagai jenis pakan dan akan menggertak komponen perutnya berkembang dan mengalami modifikasi fungsi.  Anak sapi / pedet dibuat sedikit lapar, agar cepat terangsang belajar makan padatan (calf starter).  Pedet yang baru lahir mempunyai sedikit cadangan makanan dalam tubuhnya.  Bila pemberian makanan sedikit dibatasi (dikurangi), akan memberikan kesempatan pedet menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi pakan, tanpa terlalu banyak mengalami stress/cekaman.
Tahap mencapai alat pencernaan sapi dewasa umunya pada umur 8 minggu, namu pada umur 8 minggu kapasitas rumen masih kecil, sehingga pedet belum dapat mencerna/memanfaatkan rumput atau makanan kasar lainnya secar maksimal.
Umur mencapai tahapan ini sangat dipengaruhi oleh tipe pakannya ( yaitu berapa lama  dan banyak air susu diberikan, serta kapan mulai diperkenalkan pakan kering).  Setelah disapih, pedet akan mampu memanfaatkan protein vegetal dan setelah penyapihan perkembangan alat pencernaan sangat cepat.

b.    Jenis-jenis Bahan Pakan Anak Sapi / Pedet
Jenis bahan pakan untuk anak sapi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
- Pakan cair/likuid       : kolostrum, air susu normal, milk replacer.
- Pakan padat/kering  : konsentrat pemula (calf starter).
Agar pemberian setiap pakan tepat waktu dan tepat jumlah, maka karakteristik nutrisi setiap pakan untuk pedet perlu diketahui sebelumnya.  
b.1  Kolostrum
Kolostrum adalah air susu yang dikeluarkan dari ambing sapi yang baru melahirkan, berwarna kekunig-kuningan dan lebih kental dari air susu normal.
Komposisi kolostrum :
  • Kolostrum lebih banyak mengandung energi, 6X lebih banyak kandungan proteinnya, 100X untuk vitamin A dan 3X lebih kaya akan mineral dibanding air susu normal.
  • Mengandung enzym yang mampu menggertak sel-sel dalam alat pencernaan pedet supaya secepatnya dapat berfungsi (mengeluarkan enzim pencernaan).
  • Kolostrum mengandung sedikit laktosa sehingga mengurangi resiko diare.
  • Mengandung inhibitor trypsin, sehingga antibodi dapat diserap dalam bentuk protein.
  • Kolostrum kaya akan zat antibodi yang berfungsi melindungi pedet yang baru lahir dari penyakit infeksi.
  • Kolostrum dapat juga menghambat perkembangan bakteri E. coli  dalam usus pedet (karena mengandung laktoferin) dalam waktu 24 jam pertama.

Mutu Kolostrum :
Warna dan kekentalannya menunjukan kualitasnya (kental dan lebih kekuning-kuningan akan lebih baik, karena kaya akan imonoglobulin).  Kualitas kolostrum akan rendah apabila : Lama kering induk bunting, kurang dari 3 – 4 minggu, sapi terus diperah sampai saat melahirkan. Sapi induk terlalu muda, ambing dan puting susu tidak segera dibersihkan saat melahirkan maupun saat akan diperah.

b.2    Milk Replacer atau Pengganti Air Susu (PAS)
Pada fase pemberian susu untuk pedet, air susu sapi asli dapat diganti menggunakan Milk Replacer/PAS.  Milk Replacer yang baik kualitasnya dapat memberikan pertambahan bobot badan yang sama dengan kalau diberi air susu sampai umur 4 minggu.  Namun kadang-kadang pemberian milk replacer mengakibatkan sapi lambat dewasa kelamin dan sering mengakibatkan pedet kegemukan.  Milk replacer yang baik dibuat dari bahan baku yang berasal dari produk air susu yang baik seperti ; susu skim, whey, lemak susu dan serealia dalam jumlah terbatas.  Milk replacer sebaiknya diberikan pada saat pedet berusia antara 3 – 5 minggu dan jangan diberikan kepada pedet yang berusia kurang dari 2 minggu.  Pedet yang berusia kurang dari 2 minggu belum bisa mencerna pati-patian dan protein selain casein (protein susu).
Milk replacer yang baik mempunyai standar komposisi sebagi berikut :
Protein 20%, lemak 12%, serat kurang dari 0.25% dan juga mengandung antibiotik untuk mencegah diare.  Selain antibiotik juga dapat memberikan faedah dalam nafsu makan, kehalusan bulu yang halus, pertambhan bobot badan dan efisien penggunaan pakan.  Anti biotik yang sering digunakan adalah Klortetrasiklin dan oksitetrasiklin.  Frekuensi pemberian sama dengan pemberian air susu harus lebih dari 1X dalam 1 hari dan yang terpenting harus teratur waktu dan jumlahnya.

III.   Manajemen Pemeliharaan Pedet Baru Lahir dan Pemberian kolostrum.
Pemeliharaan pedet harus memerlukan perhatian yang khusus, berbeda dengan pemeliharaan sapi ternak dewasa, terutama dalam penanganan mulai kelahiran sampai pemberian pakan dan penanganan penyakit selama masa pertumbuhannya.
a.     Manajemen Pemberian Kolostrum 1 – 4 hari Pasca Kelahiran.
-   Segera bersihkan ambing dan puting induk pasca melahirkan dengan menggunakan air hangat.
-   Usahakan pedet dapat segera ( dalam waktu kurang dari 15 – 30 menit ) menyusu pada induknya (induk dan pedet jangan dipisah dulu, agar pedet dapat langsung menyusu pada induknya.  Selain itu dengan menyusu, akan merangsang sekresi oksitosin yang menggertak pergerakan uterus, sehingga kotoran yang ada dalam uterus induk setelah melahirkan dapat dibersihkan.
-   Bila pedet tidak dapat menyusu pada induknya maka di perah kolostrum dari induk sebanyak 1 liter.
-   Berikan segera ke pedet dalam waktu 15 – 30 menit.
-   Berikan kembali kolostrum dalam 2X pemberian berikutnya masing-masing 2 liter/pemberian dalam waktu 12 – 24 jam berikutnya sejak lahir.
-   Kapasitas normal pedet yang baru lahir adalah 1 liter, dengan demikian kolostrum tidak dapat diberikan secara sekaligus, perlu dilakukan beberapa kali dalam sehari.
-   Untuk hari-hari berikutnya, selama 3 hari berikutnya, berikan kolostrum 4 – 6 liter/hari dalam 3 kali pemberian (1.5 – 2 liter /pemberian).
-   Kualitas kolostrum menentukan konsumsi antibodi pedet dalam darahnya, bila kurang memadai peluang hidup 30 % dan bila baik dapat menjadi 95 %.

b.     Manajemen Pemberian Susu 4 hari – 12 minggu (penyapihan)
-    Pemberian susu pasca kolostrum dapat dimulai sejak pedet berumur 3 – 4 hari.
-    Pemberiannya perlu dibatasi berkisar 8 – 10 % bobot badan pedet.  Misalnya pedet bobot badannya 50 kg, maka air susu yang diberikan 4 – 5 liter/ekor/hari.
-    Pemberian susu diberikan secara bertahap dalam 1 hari 2 – 3 kali pemberian.
-    Jumlah air susu yang diberikan akan terus meningkat sampai menginjak usia 2 bulan (8 minggu) disesuaikan bobot badan sapi dan akan terus menurun sampai ke fase penyapihan di usia 3 bulan (12 minggu). (dapat dilihat di tabel pemeliharaan pedet).
-    Hindari pemberian susu berlebih dan berganti-ganti waktu secara mendadak.  Over feeding akan memperlambat penyapihan dan akan mengurangi konsumsi bahan kering dan akan mengakibatkan diare.
-    Jangan memberikan air susu yang mengandung darah dari induk yang terkena infeksi (suhu tubuhnya meningkat).

c.     Manajemen Pemberian Pakan Awal/Pemula (Calf Starter)
Pemberian calf starter dapat dimulai sejak pedet 2 – 3 minggu (fase pengenalan).  Pemberian calf starter ditujukan untuk  membiasakan pedet dapat mengkonsumsi pakan padat dan dapat mempercepat proses penyapihan hingga usia 4 minggu.  Tetapi untuk sapi – sapi calon bibit dan donor penyapihan dini kurang diharapkan. 
Penyapihan (penghentian pemberian air susu) dapat dilakukan apabila pedet telah mampu mengkonsumsi konsetrat calf starter 0.5 – 0.7 kg kg/ekor/hari atau pada bobot pedet 60 kg atau sekitar umur 1 – 2 bulan.  Tolak ukur kualitas calf starter  yang baik adalah dapat memberikan pertambahan bobot badan 0.5 kg/hari dalam kurun  waktu 8 minggu.  Kualitas calf starter yang dipersyaratkan : Protein Kasar 18 – 20%, TDN 75 – 80%, Ca dan P,  2 banding 1, kondisi segar, palatable, craked. 

d.     Manajemen Pemberian Pakan Hijauan
Pemberian hijauan kepada pedet yang masih menyusu, hanya untuk diperkenalkan saja guna merangsang pertumbuhan rumen.  Hijauan tersebut sebenarnya belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam memasok zat makanan.
·     Perkenalkan pemberian hay/rumput sejak pedet berumur 2 – 3 minggu.  Berikan rumput yang berkualitas baik yang bertekstur halus.
·     Jangan memberikan silase pada pedet (sering berjamur), selain itu pedet belum bisa memanfaatkan asam dan NPN yang banyak terdapat dalam silase.
·     Konsumsi hijauan harus mulai banyak setelah memasuki fase penyapihan
e. Menghitung Daya Tampung Istilah :
  1. Cut and Carry : dipotong langsung dari kebun/ padang diberikan kepada ternak di kandang
  2. Carrying Capacity : Daya tampung padang penggembalaan (ha/UT) untuk mencukupi kebutuhan pakan hijauan
  3. Stocking Rate : Jumlah ternak yang dapat ditampung (UT/ha) suatu padang penggembalaan
  4. Asumsi kebutuhan hijauan segar: 35 atau 40 kg perhari, bahan kering 9,1 kg, (air 75 – 80 %)

Perhitungan daya tampung dengan “Cut and Carry”:
Asumsikan kebutuhan 1 UT : 9,1 kg (BK) — 40 kg (segar)
Kebutuhan rumput segar1 UT /th = 360 x 40 = 14.400 kg
Produksi hijauan kumulatif/ tahun. misal. R Gajah: 200.000 kg
Daya tampung : 200.000/14.400 x 1 UT= 13,89 UT
13 ekor sapi @ BB 455 kg yang dipelihara di kandang.

Pakan Induk,- Pakan induk (cow) : 60 hari sebelum dan 90 hari setelah melahirkan kritis.
Nutrisi tidak mencukupi : abortus, bobot lahir dan bobot sapih rendah, gagalan berahi kembali. Pada 90 – 120 hari akhir kebuntingan, memenuhi pbb 0,2 – 0,5 kg/hari, “overfeed” induk kegemukan dan sulit melahirkan.


Betina Pengganti (Replacement),-
Heifer pengganti umur 14–15 bl perlu pbb 0,5 – 0,7 kg/hari. Telah kawin perlu pbb 0,5 kg/hari pada 120 hari pertama kebuntingannya. “over feeding” sulit melahirkan dan produksi susu berkurang

Pakan Pejantan,-
Yearling (umur 1 th) perlu pbb 0,7 kg/hari dan siap mengawini 10 – 15 ekor betina. Umur > 2 tahun perlu pbb 0,75 kg/hari.

Pakan Bakalan,-
Pedet dipelihara sampai disapih (6-7 bulan) —susu induk. Sebelum disapih pedet diberikan hijauan 1/2 kebutuhan. “creep feeding” sangat penting — rumput kurang.

Creep Feeding
Creep feeding : 14 – 15 % PK dan 65 – 72 % TDN.
Tujuan Creep Feeding : Memperoleh bobot sapih tinggi.Mengurangi kebutuhan susu.Meningkatkan efisiensi pakan.Mencapai fleksibilitas pemasaran.Memperoleh pbb yang ekonomis.Keuntungan pedet dengan creep feeding :Pbb lebih tinggi 15 – 30 kg. Cepat beradaptasi dengan “fullfeed” Lebih mudah mengatasi stress penyapihan.

Saat Pemberian “creep feeding” : Induk baru pertama atau duakali melahirkan.Pedet dilahirkan saat hijauan kurang.Kualitas dan kuantitas padang gembala menurun.Harga pedet sedang tinggi dibanding harga pakan.Induk dan pedet dipelihara secara terkurung

Pakan Penggemukan,-
Bakalan dipelihara dahulu sistem “back ground” atau “stocking” Pbb sistem background 0,3 - 0,7 kg/hari : pemberian hijauan dan 1 atau 2 kg biji-bijian Sapi finishing harus mencapai pbb 0,9 – 1,2 kg/hari, konsentrat bermutu tinggi
Penggunaan Perangsang Pertumbuhan,-
Perangsang pertumbuhan (growth promoter) untuk meningkatkan pbb dan feed efisiensi
Tingkat pertumbuhan naik sebesar 10 – 15 %. Lazimnya di implantasikan pada telinga.

Pakan Penggemukan di Kandang (Drylot Fattening),-
Periode kritis di feedlot baru datang ke lokasi. Manajemen kurang, morbiditas dan mortalitas tinggi. Pengelolaan awal : dehorning, kastrasi, vaksinasi.Vitamin A dan perangsang pertumbuhan Hijauan segar dan air bersih ad libitum selama masa kritis.
Pemberian pakan awal penggemukan :
Selama 2-3 minggu biji-bijian 2 kg/100 kg bobot badan, atau 1-2 kg biji-bjian dan 0,5 kg suplemen protein dan hijauan Setelah beradaptasi, biji-bijian ditingkatkan 0,5 kg/hari Biji-bijian ditingkatkan 0,7 kg/hari konsumsi 2% BB. Hijauan dikurangi sampai 10 – 15 %, mencegah accidossis dan abses liver. Sediakan selalu suplemen mineral. Ransum mengandung 70 - 74 % TDN dan 10 - 12 % protein Air 45 - 115 liter/hari, —bobot badan, cuaca dan jenis ransum.
Pakan Penggemukan di Padang (Pastura)
Tambahan bijian 1 kg/100kg BB —grading choice. biji-bijian 0,4 kg/100 kg BB, dinaikkan 1 kg/100 kg BB 10 % garam dalam biji-bijian dan campuran mineral

Daya tampung padang penggembalaan tergantung :
Kemiringan lahan, Jarak dengan sumber air, Kecepatan pertumbuhan/produksi tanaman pakan, Kerusakan lahan, Ketersediaan hijauan yang dapat dikonsumsi, Nilai nutrisi pakan, Variasi musim, Keadaan ekologi padang penggembalaan

Pengelolaan Padang Penggembalaan
Diperlukan untuk mencapai : Keseragaman penggunaan rumput oleh ternak dan Tingkat pertumbuhan hijauan yang optimal
Penggembalaan Kontinyu (Continous grazing)
Ternak digembalakan sangat lama; sepanjang tahun atau selama pertumbuhan. Perlu pengaturan jumlah ternak yang sangat tepat.
Kerugian daya tampung tidak sesuai : Over grazing : ternak melebihi ambang daya tampung. Under grazing : ternak dibawah ambang daya tampung. Akibat under grazing : Spotted grazing : tidak merata, dilakukan pada tempat tertentu Selective grazing : hanya mengkonsumsi bagian tertentu yang paling disukai
Bila terjadi “under grazing” : Menambah unit ternak sesuai daya tampung, Mengawetkan kelebihan hijauan Penggembalaan kontinyu jumlah produksi potensial hijauan semakin berkurang

Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
a. sistem penggembalaan (pasture fattening)
b. kereman (dry lot fattening)
c. kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum). Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.


KESIMPULAN

Simpulan
Pedet adalah anak sapi yang baru lahir hingga umur 8 bulan. Selama 3-4 hari setelah lahir pedet harus mendapatkan kolostrum dari induknya, karena pedet belum mempunyai anti bodi untuk resistensi terhadap penyakit. Setelah dipisahkan dari induk, barulah pedet dilatih mengkonsumsi suplemen makanan sedikit demi sedikit sehingga pertumbuhanya optimal.
Manajemen pemeliharaan pedet meliputi penanganan awal, setelah lahir, pemberian pakan (kolostrum dan suplemen), sistem perkandangannya dan penanganan terhadap penyakit.
Saran
Manajemen pemeliharaan pedet haruslah menjadi perhatian yang lebih bagi para peternak, mengingat tinggkat kematian dan resistensinya terhadap penyakit yang tinggi. Selain itu pedet adalah ternak replacement stock yang tentunya dapat digunakan sebagai pengganti ternak yang produksinya kurang optimal.






DAFTAR PUSTAKA

Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak. Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.
Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melaluipeningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.
Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey, Prentice-Hall, Inc.:278-279.
Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan sapi perah. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.
Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius. 43 hal.
 Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and veterinary practice. Baltimore Maryland, University Park Press: 82-112; 150.
Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi perah rakyat di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.
Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong. Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.
Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and health. Proceedings of the International Livestock Environment Conference. St. Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT. Media: 1-38; 133.
Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.
Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.
Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 34-38.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar