Minggu, 01 Januari 2012

AMPAS BIR DALAM PENGEMBANGAN PETERNAKAN DI INDONESIA


AMPAS BIR DALAM PENGEMBANGAN  PETERNAKAN
DI INDONESIA

Adijaya Tangkas


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Penduduk Indonesia setiap tahun terus bertambah. Menurut data sensus terakhir jumlah penduduk Indonesia 202 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar akan menyebabkan kebutuhan pangan asal ternak semakin meningkat. Untuk lebih jelas data produksi daging sapi dan kebutuhan daging unggas adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Produksi Daging Sapi dan Konsumsi Daging Ayam Broiler

No
Tahun
Produksi Daging Sapi
(000 MT)*
Kebutuhan Daging Unggas
(kg/kapita/tahun)**
1
2001
1.128
1.73
2
2002
1.193
-
3
2003
1.445
2.30
4
2004
1.451
2.53
5
2005
-
3.70

Dari tabel di atas tampak bahwa baik produksi daging sapi maupun kebutuhan daging unggas dari tahun ke tahun terus meningkat. Kemungkinan kondisi ini akan terus berlanjut seiring dengan kondisi ekonomi yang semakin baik. Bahkan untuk konsumsi daging unggas diproyeksikan dua kali lipat pada tahun 2005 dibandingkan dengan tahun
1998. Keadaan ini memberikan peluang yang sangat besar bagi dunia perunggasan. Fenomena tersebut dirasakan dengan banyak berdirinya perusahaan peternakan, penggemukan sapi potong dan unggas baik untuk skala usaha besar maupun kecil.

Produktifitas sapi dipengaruhi antara lain oleh pakan yang dikonsumsinya. Dimaayarakat pedesaan, ternak masih dipelihara dengan cara tradisional dengan pakan seadanya. Pada saat musim kemarau panjang, peternak kesulitan mendapatkan pakan hijauan yang berkualitas baik. Dalam kondisi seperti itu, sebenarnya konsentrat memegang peranan penting untuk peningkatan produktifitas ternak.

Masalah utama pengembangan usaha ternak di daerah tropis pada umumnya terletak pada penyediaan pakan hijauan yang tidak dapat diandalkan, baik secara kualitas, kuantitas dan kontiyunitas. Hijauan memiliki kandungan protein kasar dan nilai kecernaan sangat rendah. Pada musim kemarau yang panjang atau lebih dari 6 bulan dalam setahun menyebabkan ketersediaan hijauan selama musim tersebut menjadi sangat sulit diandalkan. Selain itu, pemeliharaan yang masih dilakukan secara traditional menjadi penyebab rendahnya produktifitas ternak yang dipelihara masyarakat.

Banyak berdirinya perusahaan ternak, ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pakan yang mencukupi. Kenyataan ini mengakibatkan masih diimpornya bahan pakan. Hal ini diakibatkan karena terjadi krisis ekonomi yang parah akibat kondisi politik yang tidak stabil. Sebenarnya impor bahan pakan dapat dikurangi atau mungkin tidak sama sekali, bila kita mampu memanfaatkan sumber daya yang ada, misalkan dengan memanfaatkan ampas bir. Pada hakekatnya pemanfaatan hasil ikutan merupakan pendaurulangan sumber daya alam sehingga dapat lebih bermanfaat bagi penanggulangan kelangkaan pakan.

Ketersediaan hasil ikutan jumlahnya cukup melimpah dan terkonsentrasi di daerah tertentu, seperti halnya di daerah Jawa Barat hanya terdapat pada kota-kota tertentu yaitu Bogor, Bandung dan Sumedang. Peternak di daerah tersebut dapat memanfaatkan ampas bir tersebut untuk makanan ternaknya. Walaupun harganya sangat tergantung pada jarak, kandungan bahan kering dan alternatif penggunaannya.

1.2 Issue Pokok
Bir dibuat dari bahan baku gandum, beras dan jagung.Ampas bir cukup disukai ternak, secara kualitatif tepung ampas bir dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur rasa, warna dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas ampas bir yang baik. Secara kuantitatif untuk mengetahui kualitas ampas bir, analisis PK dan SK perlu dilakukan.

1.3 Tujuan
Tujuan dari ampas bir adalah :
  1. Alternative pakan tambahan bagi ternak yang masih banyak menganduk zat makanan yang bermanfaat
  2. Pemanfaatan limbah yang tidak terpakai menjadi pakan tambahan

1.4 Manfaat
Limbah dari hasil industri pembuatan bir (ampas bir) merupakan salah satu alternative bahan pakan ternak yang masih mengandung protein tinggi. Pemanfaatan ampas bir diharapkan akan dapat menggantikan peran konsentrat dalam pakan ternak ruminansia. Seberapa besar produktifitas dan keuntungan ekonomis yang diperoleh dengan system pemeliharaan feedlot menggunakan bahan pakan tersebut.
















BAB II
PERANAN


2.1 Deskriptif
Masalah utama pengembangan usaha ternak di daerah tropis pada umumnya terletak pada penyediaan pakan hijauan yang tidak dapat diandalkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ampas bir merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan bir yang banyak terdapat di Indonesia. Oleh karena itu untuk menghasilkan ampas bir tidak terlepas dari proses pembuatan bir.

Ditinjau dari komposisi kimianya ampas bir dapat digunakan sebagai sumber protein. Korossi (1982) menyatakan bahwa ampas bir lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan ampas tahu. Sedangkan Pulungan, dkk. (1985) melaporkan bahwa ampas bir mengandung NDF, ADF yang rendah sedangkan presentase protein tinggi yang menunjukkan ampas bir berkualitas tinggi, tetapi mengandung bahan kering rendah. Komposisi zat gizi ampas bir dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2. Komposisi Zat-zat Makanan Ampas bir

Bahan
BK (%)
Prk (%)
SK (%)
LK (%)
NDF (%)
ADF (%)
Abu (%)
Ca (%)
P
(%)
Eb (Kkal)
Ampas Bir

13.3

21.0

23.58

10.49

51.93

25.63

2.96

0.53

0.24

4730

Ampas bir juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping memiliki kandungan zat gizi yang baik, ampas bir juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).
2.2 Kelebihan
Grain bir, Makan Bir juga disebut, adalah produk-oleh dari produksi bir yang merupakan protein tingkat menengah (CP> 26%) feedstuff digunakan dalam pakan hewan. Mereka adalah sumber yang sangat baik berkualitas tinggi by-pass protein dan serat dicerna. Butir bir kering memiliki asam amino yang baik, mineral dan vitamin B konten. Hal ini sangat cocok dan dapat digunakan dalam berbagai ransum. butir bir kering adalah protein feedstuff tingkat menengah digunakan dalam pakan hewan. Mereka adalah sumber yang sangat baik berkualitas tinggi by-pass protein dan serat dicerna. Butir bir kering memiliki asam amino yang baik, mineral dan vitamin B konten.

2.3 Kelemahan
Meskipun ampas bir merupakan salah satu pakan tambahan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi tapi penggunaan ampas bir yang berlebihan akan menyebabkan pengaruh negative pada ternak. Biasanya penggunaan yang berlebihan akan mengakibatkan ganguan pencernaan pada ternak ruminansia dan stress pada ternak non ruminansia.

2.4 Peranan
Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas bir sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas bir telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70% (Amaha, et al., 1996).

Penelitian telah dilakukan pada domba oleh Pulungan, dkk., (1984), di mana ternak percobaannya diberi ransum perlakuan (A) rumput lapangan (ad libitum), (B) rumput lapangan (ad libitum) + ampas bir 1,25% BB, (C) rumput lapangan (ad libitum) + ampas tahu 2,5% BB, (D) rumput lapangan (ad libitum) + ampas bir (ad libitum). Hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa domba yang mendapat rumput berkualitas rendah, ampas bir dapat diberikan sebagai ransum penggemukan dan dapat diberikan secara tak terbatas.
Knipscheer et al. (1983) melakukan penelitian pada kambing dan menyimpulkan bahwa pemberian ampas tahu dapat memberikan keuntungan dalam usaha peternakan kambing atau domba yang dipelihara secara intensif.

Ampas tahu merupakan sumber protein yang mudah terdegradasi di dalam rumen (Suryahadi, 1990) dengan laju degradasi sebesar 9,8% per jam dan rataan kecepatan produksi N-amonia nettonya sebesar 0,677 mM per jam (Sutardi, 1983). Penggunaan protein ampas tahu diharapkan akan lebih tinggi bila dilindungi dari degradasi dalam rumen (Suryahadi, 1990).

Penelitian yang dilakukan Karimullan (1991) menunjukkan bahwa perlindungan ampas tahu dengan tanin menurunkan kadar amonia cairan rumen, hal ini berarti bahwa pemanfaatan protein ampas tahu dapat secara langsung digunakan oleh induk semang tanpa mengalami degradasi oleh mikroba rumen (protein by pass). Namun demikian perlindungan ini juga menyebabkan kadar VFA menurun dan diikuti pula dengan penurunan bakteri dan protozoa rumen. Kemungkinan besar karena pasokan nutrien ampas tahu, begitu pula dengan protozoa tidak cukup suplai bakteri dan nutriennya bagi kebutuhan untuk pertumbuhannya akibat perlindungan ampas tahu tersebut oleh tannin gambir.

2.5 Strategi
Penggunaan ampas bir sangat berguna sebagai pakan tambahan, dimana dari ampas bir ini peternak tidak perlu khawatir dengan harga pakan tambahan yang tinggi. Hal ini sebagai alternative pengganti bungkil dan bahan pakan lain yang dapat digantikan oleh ampas bir.






BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan
Dari studi literatur yang dilanjutkan dengan hasil pembahasan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan :

  1. Ampas bir memiliki nilai nutrisi yang baik dan digolongkan ke dalam bahan pakan sebagai sumber protein.
  2. Ampas bir apabila diolah dan diawetkan, baik secara kering maupun secara basah dapat dimanfaatkan dan disimpan dalam waktu yang cukup lama.
  3. Ampas bir digunakan sebagai ransum memberikan pengaruh yang baik terhadap performans ternak ruminansia.
  4. Ampas bir apabila diproteksi dengan tannin dalam rumen akan tanah terhadap degradasi, hal ini dicerminkan dengan menurunnya konsentrasi VFA NH3, bakteri, dan protozoa rumen.

3.2 Saran
Perlu ada penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan limbah ampas bir dalam penggunaan ampas bir sebagai bahan pakan tambahan bagi ternak.










DAFTAR PUSTAKA

Amaha, K., Y. Sasahi, and T. Segawa. 1996. Utilization of Tofu (Soybean Curd) By-Product as Feed for Cattle. http// www.agnet.org. Arianto, B.D. 1983. Pengaruh Tingkat Pemberian Ampas bir Sebagai terhadap Potongan Karkas Komersial Broiler Betina Strain Hybro umur 6 Minggu. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Badan Pusat Statistik. 2002. Statistik Peternakan, Jakarta. http//www.bps. CuIlison, E.A. 1978. Feeds and Feeding. Prentice Hall of India Private Limited. New Dehli.

Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. 1999. Uji Coba Pembuatan Silase Ampas bir. Brosur. Fardiaz, D dan Markakis. 1981. Degradation of Phytic Acid -in Oncom (Fermented Peanut Press Cake). J. Food. Sci. 46:523.

IMALOSITA-IPB. 1981. Studi Pemanfaatan Limbah bir. Fakultas Teknologi Pertanian Bogor, Bogor.

Karimullah. 1991. Penggunaan Ampas bir dengan Gambir Sebagai Pelindung Degradasi Protein Untuk Bahan Baku Pellet Ransum Komplit Ditinjau Berdasarkan Metabolisme dan Populasi Mikroba Rumen. Karya Ilmiah. lnstitut Pertanian Bogor.

Robards and L.G. Packlam. Prabowo, A., D. Samaih dan M. Rangkuti. 1993. Pemanfaatan ampas bir sebagai makanan tambahan dalam usaha penggemukan domba potong. Proceeding Seminar 1983. Lembaga Kimia Nasional-LIPI, Bandung.

Pulungan, H., J.E. Van Eys, dan M. Rangkuti. 1984. Penggunaan ampas bir sebagai makanan tambahan pada domba lepas sapih yang memperoleh rumput lapangan. Balai Perielitian Ternak, Sogor. 1(7): 331-335.

Kerley, M.S., 2000. Feeding For Enhancing Rumen Function. Departement of Animal Sciences, University of MissouriColumbia, USA. Bahan diambil dari Internet.

Sampath, K.T., 1990. Rumen Degradable Protein And Undegradable Crude Protein Content of Feeds and Fooders- A Review. Indian j.dairy.Sci. 43 :1-10.

Teleni, E., Campbell, R.S.F. and Hoffmann,D., 1993. Draught Animal Systems And Management: An Indonesia study. ACIAR Monograph No.19. Printed by Price Printers, Canberra, Australia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar