Minggu, 01 Januari 2012

PEMELIHARAAN KAMBING


PEMELIHARAAN KAMBING
I. MADE ADI JAYA
0614061038




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kambing termasuk salah satu jenis ternak yang akrab dengan system usaha tani di pedesaan. Hampir setiap rumahtangga memelihara kambing. Sebagian dari mereka memang menjadikannya sebagai sumber penghasilan keluarga. Saat ini pemeliharaan kambing bukan hanya di pedesaan saja, tetapi sudah menyebar ke berbagai tempat. Semakin banyaknya peternakan kambing yang muncul di sebabkan oleh permintaan daging dan susu kambing yang terus mengalami peningkatan. Ternak kambing dengan sifat alaminya sangat cocok di budidayakan di daerah pedesaan yang sebagian besar penduduknya adalah petani berpenghasilan rendah. Sebab ternak kambing sendiri memiliki sifat dapat beranak kembar dan fasilitas serta pengelolaannya lebih sederhana di bandingkan dengan ternak ruminansia besar.

Ditinjau dari aspek pengembangannya, ternak kambing sangat potensial bila di usahakan secara komersial, antara lain : umur kedewasaan dan umur kebuntingan ternak kambing lebih pendek bila di bandingkan dengan ternak sapi atau kerbau sebagai ternak ruminansia besar. Keadaan yang demikian member pengaruh positif bagi petani-peternak pedesaan dalam memanfaatkan waktu luang, sebab usaha ternak kambing hanya memerlukan fasilitas dan pengelolaan sederhana.

Disamping daging, ternak kambing masih dapat memberikan hasil sampingan berupa susu dan pupuk kandang. Khusus bagi petani-peternak yang berdomisili di pedesaan, usaha ternak kambing berfungsi sebagai tabungan yang dapat di manfaatkan setiap saat.Beternak kambing memang tidak selalu memerlukan uang kontan yang besar jumlahnya. Petani-peternak sekala kecil masih mampu membiayai pemeliharaan ternak kambing. Di daerah pedesaan, ternak kambing biasanya dipelihara secara tradisional dengan sisitem pemeliharaan :

· Ternak kambing di kandangkan terus-menerus;
· Ternak kambing di kandangkan, juga di gembalakan pada jam-jam tertentu;
· Ternak kambing di lepas di padang pengembalaan sepanjang hari.

Cara pemeliharaan kambing yang banyak dilakukan petani-peternak di pedesaan umumnya adalah di kandangkan dan juga di gembalakan. Pengembalaan biasanya dilakukan secara berpindah-pindah. Kambing yang di pelihara dengan cara di kandangkan, dan pada waktu tertentu di gembalakan atau di gembalakan terus menerus sepanjang hari, hasilnya lebih baik. Sebab dengan system pengelolaan demikian, ternak kambing memperoleh factor pendukung yang lebih kuat. Di tinjau dari aspek tingkah lakunya, ternak kambing merupakan hewan gembalaan. Realitas ini di sebabkan oleh sifat ternak kambing yang merasa lebih senang dan cocok bila hidup secara bebas dan setengah liar. Lebih jauh lagi gairah untuk kawin serta aktivitas kehidupan lainnya akan lebih menonjol.

Dari aspek tersedianya hijauan pakan ternak, kambing yang di lepas di padang pengembalaan akan bebas dan dapat memilih hijauan pakan sesuai dengan yang di senanginya. Berbeda halnya dengan yang di kandangkan, sebab hijauan pakan serba terbatas dan tergantung dari pengelolanya. Kambing yang di pelihara dengan cara di gembalakan menyebabkan kambing selalu berpindah-pindah tempat sehingga mengurangi kemungkinan terinfeksi larva cacing. Kandang yang bersih, suasanan yang tenang dan nyaman bagi ternak dapat menunjang peningkatan atau pertumbuhan produksi, baik itu produksi Daging, Susu dan kualitas kambing yang dihasilkan menjadi lebih meningkat.

B. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
  1. Mengetahui proses atau cara beternak Kambing PE yang baik.
  2. Mengetahui kekurangan dan kelebihan tatacara pemeliharaan dalam praktikum
                                                                                                                


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Dalam usaha peternakan kambing peranakan etawa, terlebih lagi jika pemeliharaan dengan jumlah besar, kambing memerlukan perhatiaan yang cukup serius, sehingga perlu ditempatkan dalam sebuah kadang.

Membangun kandang untuk kambing etawa seperti membangun rumah untuk tempat tinggal manusia, sehingga secara hakekat normative harus sama. Pembangunan kandang memerlukan keterampilan dan keseriusan. Tujuannya adalah untuk menciptakan desain kandang yang sempurna bagi kambing yang akan dipelihara agar benar-benar menjadi home sweet home bagi kambing itu sendiri. Prinsipnya adalah konstruksi kandang harus dapat membuat kambing merasa nyaman dan aman. Kondisi ini tentunya akan menjadikan kambing berproduksi secara normal.

Dalam hal ini kandang memiliki fungsi sebagai berikut ini:
Kandang harus dapat melindungi kambing dari hewan-hewan pemangsa maupun hewan penganggu.
Kandang harus dapat mempermudah kambing dalam melakukan aktifitas keseharian kambing seperti makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran.
Kandang dapat mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan ternak.
Sebagai tindakan preventif agar supaya kambing tidak merusak taneman dan fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi kandang, serta menghindari terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing.

Kandang di usahakan di bangun dilokasi yang jauh dari pemukiman warga. Hal ini di maksudkan agar supaya kotoran yang ditimbulkan oleh kambing tidak menganggu warga masyarakat. Dianjurkan juga lokasi kandang sebaiknya berada di tanah yang memiliki tanaman yang rimbun . Hal ini dimaksudkan agar supaya angin yang bertiup tidak terlalu kencang. Angin yang terlalu kencang dapat menyebabkan kambing sering kembung perut.

Luasan kandang sebaiknya disesuaikan dengan jumlah kambing yang akan dipelihara. Standart luas kandang untuk seekor kambing adalah 1,5m persegi, sehingga untuk memelihara kambing 10 ekor, dibutuhkan lahan seluas 15m persegi. Pembuatan kandang di sarankan untuk melihat potensi pengembangan, sehingga perlu di buat kandang yang lebih luas. Pembuatan kandang memang membutuhkan biaya yang ekstra, tetapi manfaatnya akan lebih terasa pada masa yang akan datang. Jika dipandang terlalu luas dengan jumlah kandang yang ada, kandang bisa diberi sekat untuk pemisah sehingga gerak untuk kambing jadi terbatas. Usahakan pembangunan kandang di indari dari tempat genangan air.

Desai dan konstruksi kandang tidak usah terlalu mewah, tetapi cukup sederhana saja, apalagi kalau pemeliharaannya sekala kecil, di bawah 5 ekor. Namun, apabila pemeliharaannya bersekala komersiil atau di atas 10 ekor, jelas diperlukan desain dan konstruksi khusus yang ideal di area yang cukup luas. Ini disebabkan pemeliharaan kambing sekala komersial memerlukan penangan yang lebih serius.
Kandang di usahakan berbentuk panggung, karena pada dasarnya akan lebih mudah bagi peternak untuk melakukan pengawasan terhadap ternakan tu sendiri. Dasar kandang di buat agak miring dengan kemiringan 60’.

Dasar kandang ini berada di bawah lantai karena kontrusi kandang di buat system pangggung. Fungsinya agar limbah kotoran kambing dapat langsung mengalir ke parit atau bak penampungan kambing yang disediakan di sekitar kandang. Tujuan utama pembagunan dasar kandang yang miring adalah agar supaya tercipta kebersihan kandang. Karena kandang yang bersih merupakan cara pencegahan penyakit pada ternak. Bila nanti di lantai kolong kandang masih ada kotoran kambing sebaiknya setiap hari kandang disapu atau dibersihkan agar supaya tidak muncul bau yang dapat mengancam kesehatan ternak


A. Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan secara ekstensif umumnya dilakukan di daerah yang mahal dansulit untuk membuat kandang, kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampungkira-kira tiga sampai dua belas ekor kambing per hektar (Williamson dan Payne 1993).Sistem pemeliharaan secara ekstensif, induk yang sedang bunting dan anak-anak kambingyang belum disapih harus diberi persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns,1994). Rata-rata pertambahan bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif dapatmencapai 20-30 gram per hari (Mulyono dan Sarwono, 2005).Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan pengandangan terus menerus atautanpa penggembalaan, sistem ini dapat mengontrol dari faktor lingkungan yang tidak baik dan mengontrol aspek-aspek kebiasaan kambing yang merusak (Williamson dan Payne1993). Dalam sistem pemeliharaan ini perlu dilakukan pemisahan antara jantan dan betina sehubungan dengan ini perlu memisahkan kambing betina muda dari umur tiga bulan sampaicukup umur untuk dikembangbiakkan, sedangkan untuk pejantan dan jantan harusdikandangkan atau ditambatkan terpisah (Devendra dan Burns, 1994).

Sistem pemeliharaan secara semi intensif merupakan gabungan pengelolaan ekstensif (tanpa penggembalaan) dengan intensif, tetapi biasanya membutuhkan penggembalaanterkontrol dan pemberian pakan konsentrat tambahan(Williamson dan Payne 1993)

B. Pakan Kambing
Pakan kambing sebagian besar terdiri dari hijauan, yaitu rumput dan daundaunan tertentu(daun nangka, daun waru, daun pisang dan daunan leguminosa). Seekor kambing dewasamembutuhkan kira-kira 6 kg hijauan segar sehari yang diberikan 2 kali, pagi dan sore, tetapikambing lebih suka mencari dan memilih pakannya sendiri di alam terbuka. Untuk kambingjantan yang sedang dalam periode memacek sebaiknya ditambah pakan penguat (konsentrat) ± 1kg.

Konsentrat yang terdiri dari campuran 1 bagian dedak dengan 1 bagian bungkil kelapaditambah garam secukupnya adalah cukup baik sebagai pakan penguat. Pakan penguat tersebutdiberikan sehari sekali dalam bentuk bubur yang kental (Sosroamidjojo, 1985). Kambing makanpakan yang tidak biasa dikonsumsi oleh hewan lain. Pakan utama kambing adalah tunas-tunassesuai dengan sifat alamiah kambing (browser). Kambing sangat efisien dalam mengubah pakanberkualitas rendah menjadi protein yang ber kualitas tinggi (Blakely dan Bade , 1994).

Menurut Setiawan dan Arsa (2005), secara umum pakan kambing. Peranakan Ettawa sebenarnya hanyaterdiri dari tiga jenis, yaitu pakan kasar pakan penguat dan pakan pengganti. Pakan kasar merupakan bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa pakan hijauan yang terdiri dari rumput dan dedaunan Pakan penguat merupakan bahan pakan berkadar serat rendah dan mudah dicerna seperti konsentrat, ampas tahu dan bubur singkong.

Sementara pakan pengganti merupakan pakan hijauan yang sudah difermentasi. Menurut Mulyono dan Sarwono (2008), pada dasarnya kambing tidak selektif  dalam memilih pakan. Segala macam daun-daunan dan rumput disukai,tetapi hijauan dari daun-daunan lebih disukai daripada rumput. Hijauan yang baik untuk pakanadalah hijauan yang belum terlalu tua dan belum menghasilkan bunga karena hijauan yang masihmuda memiliki kandungan PK (protein kasar) yang lebih tinggi. Hijauan yang diperoleh padamusim hujan sebaiknya dilayukan atau dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk pakan kambing

C. Hijauan
Pemberian pakan hijauan diberikan 10% dari bobot badan (Sugeng, 1992).Menurut Murtidjo (1993), hijauan pakan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansiadan berfungsi sebagai sumber gizi, yaitu protein, sumber tenaga, vitamin dan mineral.Pemanfaatan hijauan pakan sebagai makanan ternak kambing harus disuplementasikandenga n makanan penguat atau konsentrat agar kebutuhan nutrisi terhadap pakan dapatterpenuhi. Tujuan suplementasi makanan penguat dalam makanan ternak kambing adalahuntuk meningkatkan daya guna makanan atau menambah nilai gizi makanan, menambahunsur makanan yang defisien serta meningkatkan konsumsi dan kecernaan makanan.Keuntungan yang diperoleh dari pemberian pakan kasar bersama makanan penguatadalah adanya kecenderungan mikroorganisme dalam rumen dapat memanfaatkanmakanan penguat terlebih dahulu sebagai sumber energi dan selanjutnya memanfaatkanmakanan kasar yang ada. Dengan demikian mikroorganisme rumen lebih mudah danlebih cepat berkembang populasinya, sehingga akan semakin banyak makanan yang harusdikonsumsi ternak kambing

Siregar (1995) menambahka n bahwa pemberian hijauan terbagi menjadi 2macam yaitu hijauan yang diberikan dalam keadaan masih segar dengan kadar air 70%dan hijauan yang diberikan dalam keadaan kering atau awetan. Hijauan kering dapatberupa hay, sedangkan awetan dapat berupa silase. Hijauan merupakan bahan pakanberserat kasar yang dapat berasal dari rumput dan dedaunan..

Kebutuhan hijauan untuk kambing sekitar 70% dari total pakan (Setiawan dan Arsa, 2005). Kambing akan memperoleh semua gizi yang dibutuhkan dari hijauan bila pakan berupa campuran daun – daunan dan rumputan dicampur dengan perbandingan 1 : 1. dengan komposisi demekian, zat gizi yang terdapat pada masing-masing jenis hijauan yang diberikan tersebut akan saling melengkapi dan menjami ketersedian gizi yang lebih baik.

D. Kosentrat
Konsentrat adalah bahan pakan yang digunakan bersama bahan pakan lainuntuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan pakan dan dimaksudkan untuk disatukan atau dicampur sebagai suplemen atau bahan pelengkap (Hartadi et al., 1980).Murtidjo (1993) menjelaskan bahwa konsentrat untuk ternak  kambing umumnya disebutsebagai pakan penguat atau bahan baku pakan yang memiliki kandungan serat kasar kurang dari 18% dan mudah dicerna. Pakan penguat dapat berupa dedak jagung, ampastahu, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, atau campuran pakan tersebut.
BAB III
BAHAN DAN METODE


A. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Alat :
  • Ember
  • Sapu
  • Sabit
  • Alat pengukur suhu rektal
Bahan :
  • Ternak kambing
  • Pakan konsentrat dan hijauan

B. Cara Kerja
  • pagi hari pukul 10.00 wib membersihkan kandang dan pemberian pakan konsentrat.
  • Sore hari pukul 15.oo wib, membersihkan kandang dan pemberian pakan hijauan
  • Pada hri ke 5 melakukan pengukuran suhu Rektal











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN






























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
  1. keberhasulan suatu usaha peternakan, baik itu peternakan besar maupun peternakan rakyat (tradisional) sangat ditentukan oleh segitiga produksi yang baik, yaitu Breeding, Feeding, dan Manajemen.
  2. Hijauan merupakan makanan utama kambing dan domba, sehingga harus mempunyai nilai gizi dan daya cerna yang tinggi dan harus diberikan sesuai dengan kebutuhan ternak.
  3. Selain hijauan, ternak perlu diberi pakan penguat, yaitu yang berupa konsentrat untuk melengkapi kebutuhan gizi
  4. Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi kandang dan manajemen peternakan di daerah Kembaran belum memadai.
  5. Perawatan kesehatan mutlak harus di perhatikan karena merupakan salah satu penentu keberhasilan usaha peternakan

Saran
  1. Perlu adanya perbaikan tatalaksana pemeliharaan di daerah peternakan rakyat Kembaran.
  2. Perlu adanya campur tangan pemerintah setempat untuk memberikan penerangan tentang peternakan yang baik.
  3. Perlu adanya pemberian konsentrat pada ternak yang dielihara
  4. Perlu adanya penjelasan mengenai pentingnya pemberian konsentra, pencukuran bulu, pemotongan kuku, dan pemandian ternak







DAFTAR PUSTAKA


Devandra dan Burns. 1994. Beternak Kambing di Daerah Tropis. Penebar Swadaya. Jakarta

Dwiyanto. 1994 Penanganan Domba dan Kambing. Penebar Swadaya. Jakarta

Murtidjo. 1992. Memelihara Domba. Kanisius. Yogyakarta

________.1993. Memelihara Kambing Sebagai Ternak Potong dan Perah. Kanisius. Yogyakarta.

Sarwono. 1990. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta

Sumoprastowo. 1998. Beternak Kambing yang Berhasil. Bhratara Niaga Media. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar