Minggu, 01 Januari 2012

ESTRUS


ESTRUS
I.Made Adijaya

Estrus merupakan masa dimana ternak mempunyai keinginan untuk kawin.Pada proses estrus, terdapat 4 fase yakni, proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus.Fase-fase ini terjadi dalam satu siklus.

Fase proestrus dimulai dengan regresi CL sehingga progesterone terhenti. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat, sehingga pada akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilakuperkembangan estrus yang dapat diamati. Berlangsung selama 2-3 hari dan dicirikanadengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen.

Fase estrus merupakanperiodeketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasiberhubungan dengan fase estrus, yaitu selesai fase estrus. Kira-kira setelah 12-14 jam,fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi hingga setelahfase estrus.

Fase metestrus, diawali dengan penghentian fase estrus. Umumnya faseini merupakan fase terbentuknya CL sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Fase iniditandai dengan berhentinya birahi secara tiba-tiba. Berlangsung selama 3-5 hari.

Fase diestrus, merupakan fase CL bekerja secara optimal. Pada fase ini, progesterone dalam darah meningkatdan diakhiri dengan regresi CL. Fase ini juga disebut denganfase persiapan uterus untuk kebuntingan. Fase ini merupakan fase terpanjang darisiklus estrus yakni berlangsung selama 13 hari. Terjadinya kebuntingan atau tidak,CL akan berkembang menjadi organ yang fungsional yang akan menghasilkansejumlah progesterone. Jika ovum yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akanmenghasilkan progesterone yang akan mempertahankan kebuntingan. Jika ovum yangtidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi selama beberapa hari setelah itu, CL akan mengalami regresi dan akan masuk pada siklus estrus yang baru (Imron, 2008).


















Teknik inseminasi buatan (IB) mungkin hanya ditujukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan saja seperti yang dilakukan oleh Lazzaro Spallanzani sebagai penemunya, apabila tidak dikenal manfaatnya sebagai alat untuk mengendalikan penyakit dan untuk menaikkan mutu genetik ternak. IB banyak dimanfaatkan untuk mencegah dan memberantas penyakit kelamin menular, seperti yang pernah dilakukan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. IB juga digunakan bangsa Rusia untuk menaikkan mutu ternak secara upgrading.

Tetapi pada masa sekarang dan akan datang tampak bahwa IB merupakan teknik yang dianggap berhasil dalam bidang pemuliaan ternak. Metode-metode praktis telah dilakukan, dan pelayanan untuk menaikkan mutu sapi menguntungkan bagi para peternak. Peternak atau peternakan kecil dengan jumlah sapi betina yang sedikit dapat meningkatkan mutu ternaknya menggunakan IB menggunakan semen pejantan berdaya pembuahan sangat tinggi dan mutu genetik yang luar biasa dan juga peternak mau membayar lebih tinggi hanya untuk mendapatkan inseminasi yang memuaskan tentunya dengan harapan anak yang didapatkan berkualitas super.

Akan tetapi teknik IB ini mempunyai manfaat maupun kerugiannya, meskipun manfaat yang didapatkan jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya.

Manfaat Inseminasi Buatan Beberapa manfaat yang dapat dirasakan dalam penerapan IB ini adalah:

  1. Inseminasi buatan (IB) sangat mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul. Daya guna seekor pejantan yang secara genetik unggul dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

  1. Bagi peternak-peternak kecil seperti umum ditemukan di Indonesia, penggunaan IB sangat menghemat biaya disamping dapat menghindari bahaya dan menghemat tenaga pemeliharaan pejantan yang belum tentu merupakan pejantan terbaik untuk diternakkan.

  1. Pejantan-pejantan yang digunakan dalam IB telah dilakukan seleksi secara teliti dan ilmiah dari hasil perkawinan betina-betina dengan pejantan unggul.
    Dengan lebih banyak betina yang dilayaninya dan dari turunan-turunan hasil perkawinan ini dapat lebih cepat diseleksi dan dipertahankan pejantan-pejantan unggul dan mengeliminir pejantan-pejantan jelek.

  1. Penularan penyakit dapat dicegah melalui IB, dengan hanya menggunakan pejantan-pejantan yang sehat atau bebas dari penyakit, menghindari kontak kontak kelamin pada waktu perkawinan, dan membubuhi antibiotika ke dalam semen sebelum dipakai. IB merupakan cara terbaik mencegah penyebaran penyakit veneral dan penyakit menular lainnya seperti Brucellosis, Vibriosis, Leptospirosis dan Trichomoniasis.

  1. Karena hanya semen dengan fertilitas tinggi yang diberikan pada peternak, maka calving intervalnya dapat diperpendek dan dapat menurunkan kasus repeat breeder (kawin berulang bagi betina).

  1. Keuntungan lainnya adalah memungkinkan perkawinan antara ternak yang sangat berbeda ukurannya, misalnya sapi Bali dapat dikawinkan dengan semen sapi Brangus, Simental maupun Limousin. IB juga dapat memperpanjang waktu pemakaian pejantan-pejantan yang secara fisik tidak sanggup berkopulasi secara normal. IB dapat menstimulir interese yang lebih tinggi dalam beternak dan praktik manajemen yang lebih baik. IB juga sangat berguna untuk digunakan pada betina-betina yang berada dalam keadaan estrus dan berovulasi tetapi tidak mau berdiri untuk dinaiki pejantan.





Kerugian Inseminasi Buatan
Selain manfaat dari IB ini sangat banyak terutama dalam meningkatkan mutu hasil ternak, akan tetapi harus juga diperhatikan kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh teknik IB ini. Kerugian-kerugiannya adalah:

  1. Pelaksana yang terlatih baik dan terampil diperlukan dalam mengawasi atau melaksanakan penampungan, penilaian, pengenceran, pembekuan dan pengangkutan semen dan inseminasi pada ternak betina untuk mencegah penyebaran penyakit-penyakit kelamin menular yang dapat menjangkiti kelompok-kelompok ternak.

  1. Kemungkinan besar IB dapat menjadi alat penyebar abnormalitas genetic seperti pada sapi, diantaranya cystic ovary, konformasi tubuh yang buruk terutama pada kaki-kakinya, dan kekurangan libido. Belum banyak penelitian tentang meningkatnya kejadian cystic ovary pada sapi perah yang sebagian besar disebabkan oleh penggunaan IB secara meluas.

  1. Apabila persediaan pejantan unggul sangat terbatas, peternak tidak dapat memilih pejantan yang dikehendaki untuk mengikuti program peternakan yang diingininya. Dengan penggunaan seekor pejantan secara terus-menerus, kemungkinan besar akan terjadi “inbreeding” yang merugikan.

  1. IB masih diragukan manfaatnya dalam mengatasi semua infeksi atau abnormalitas saluran kelamin betina, kalaupun ada, jarang terjadi.

  1. Inseminasi intrauterine pada sapi yang bunting dapat menyebabkan abortus.

  1. IB tidak dapat digunakan dengan baik pada semua jenis hewan. Pada beberapa spesies masih harus dilakukan penelitian sebelum IB dapat dipakai secara praktis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar